[Post-Event Report] Lapor Diri 2017

on

Pada hari Senin, 6 November 2017, PPI Leiden bekerjasama dengan KBRI Den Haag menyelenggarakan acara Lapor Diri 2017 di Gedung Lipsius, Leiden. Tidak hanya memfasilitasi Warga Negara Indonesia (WNI) di Leiden untuk melaporkan kedatangannya ke Belanda, KBRI Den Haag juga memberikan seminar mengenai kekonsuleran yang disediakan oleh KBRI. Selain itu, secara resmi, Pengurus PPI Leiden Periode 2017/2018 juga diperkenalkan pada acara Lapor Diri ini.

Acara Lapor Diri dibuka oleh Bapak H.E I Gusti Agung Wesaka Puja selaku Duta Besar LBBP RI untuk Kerajaan Belanda. Dalam pembukaannya, Bapak Duta Besar menceritakan secara singkat sejarah perjuangan para mahasiswa tempo dulu yang bersekolah di Leiden dan membentuk perhimpunan mahasiswa Indonesia, dimana saat ini dikenal dengan PPI Leiden. Beliau juga berpesan, bahwa kesempatan dapat berkuliah di salah satu universitas terbaik, Universiteit Leiden, adalah suatu kesempatan berharga yang tidak boleh disia-siakan. Oleh karenanya, diharapkan khususnya para pelajar yang saat ini sedang menempuh studinya di Leiden untuk tetap bersemangat dan termotivasi menyelesaikan studinya dengan baik, dan berkontribusi bagi negeri sesuai disiplin ilmunya masing-masing.

Seminar Kekonsuleran KBRI di sampaikan oleh Bapak Bambang Hari Wibisono (Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Den Haag), Bapak Johannes Fanny Aprianto (Atase Imigrasi KBRI Den Haag) dan Bapak Jun Kuncoro (Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Den Haag).

Beberapa poin penting dari seminar dimaksud adalah sebagai berikut :

 

  1. Saat ini, KBRI Den Haag mencatat kedatanganan WNI di Belanda dengan 2 (dua) sistem yakni manual dan elektronik. Untuk sistem manual, KBRI berkoordinasi dengan PPI-PPI kota di Belanda, termasuk PPI Leiden, untuk menyelenggarakan acara Lapor Diri di tempat. Dimana WNI yang akan melakukan lapor diri diminta mengisi dan mencetak formulir pendaftaran yang dapat diunduh secara online di laman imigrasi.indonesia.nl, menempelkan pas foto pada formulir tersebut, membawa paspor asli dan fotocopy paspor halaman identitas, kemudian menyerahkannya kepada staff KBRI di lokasi acara Lapor Diri.

 

Sedangkan untuk sistem elektronik, sejak setahun belakangan ini, KBRI mengusahakan optimalisasi pelaporan diri secara online melalui aplikasi ALDITA (Aplikasi Lapor Diri Kita) yang dapat diunduh secara gratis di Google PlayStore (Android) atau Application Store (iPhone). WNI yang ada di Belanda disarankan untuk mengunduh ALDITA dan melengkapi formulir online yang disediakan disana. ALDITA juga dilengkapi dengan fitur “Berita Aldita” dimana info-info terkini terkait acara KBRI Den Haag akan dipublikasikan, diantaranya Pasar Raya Indonesia, Pameran Arsip Nasional dan lain sebagainya.

 

Kedepannya, KBRI akan mengoptimalisasi penggunaan ALDITA sehingga diharapkan lapor diri manual tidak lagi diperlukan dan seluruh data dapat terpusat secara online.

  1. Khususnya untuk pelajar, perlu di perhatikan bahwa sebagai pemegang student residence permit, pelajar Indonesia di Leiden wajib memenuhi persyaratan minimal kredit yang didapat per tahun ajarannya sebagaimana ditetapkan oleh Universitas. Konsekuensinya, apabila kredit minimal tidak terpenuhi, akan berpengaruh pada status visa.

 

Sebagai contoh, Universiteit Leiden mensyaratkan minimal mahasiswa memperoleh 50% kredit yang diperlukan per tahun akademiknya. Singkatnya, mahasiswa wajib memperoleh 30 ECTS selama tahun akademik 2017-2018 pada 31 Agustus 2018 (untuk mahasiswa yang memulai kuliah pada September 2017) atau 15 ECTS (untuk mahasiswa yang memulai kuliah pada February 2018.

 

Dalam beberapa kasus dimana pelajar beresiko dideportasi dari Belanda karena tidak memenuhi syarat di atas, pelajar dapat berkonsultasi dengan KBRI Den Haag untuk membantu menjembatani dengan pihak Universitas, apabila ada solusi alternatif yang dapat ditempuh selain mendeportasi mahasiswa tersebut. Apabila dapat dinegosiasikan, maka pelajar dapat meneruskan studinya dengan memenuhi persyaratan tertentu sedangkan apabila universitas tidak menawarkan solusi lain, maka yang bersangkutan terpaksa dipulangkan ke Indonesia.

 

  1. KBRI Den Haag juga mengingatkan para WNI di Belanda untuk senantiasa menjaga diri dari berbagai potensi kejahatan diantaranya penipuan dan cybercrime. Dalam hal, hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, KBRI dapat membantu sebatas mendampingi bukan menggantikan. Karena di Belanda, apabila seseorang menjadi korban dari kejahatan, maka harus yang bersangkutan yang melaporkan dan mengurus kasusnya. Sehingga apabila WNI yang menjadi korban tidak memberitahukan kasus yang dialaminya kepada KBRI, maka KBRI tidak dapat mendampingi kasus hukumnya lebih jauh.

 

  1. KBRI Den Haag menyediakan jasa kekonsuleran bagi para WNI yang berada di Belanda. Diantaranya pembuatan paspor baru apabila hilang, pembaruan paspor, konsultasi dan pendampingan WNI, surat catatan kepolisian, perkawinan dan perceraian (pembuatan bukti pencatatan kelahiran di Luar Negeri, bukti pencatatan perkawinan dan sebagainya), dan jasa kekonsuleran lainnya sebagaimana bisa diakses lebih lanjut di http://ina.indonesia.nl.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s