Nederland-Japan- Indonesië Dialoog

Hari Sabtu (4/6) yang lalu, PPI Leiden berkesempatan untuk mewakili generasi muda Indonesia dalam konferensi bersama Yayasan Dialoog Nederland-Japan- Indonesië (NJI) di Utrecht. Selama 16 tahun terakhir, Yayasan Dialoog NJI menyelenggarakan konferensi serupa untuk mengupayakan rekonsiliasi di antara pihak-pihak yang terlibat dalam Perang Dunia II di Asia Tenggara, secara khusus Indonesia, Belanda, dan Jepang. Lewat konferensi ini, para peserta diajak untuk merenungkan dan menggali kemungkinan mewujudkan rekonsiliasi diantara pihak-pihak tersebut. Konferensi kali ini secara khusus mengajak pesertanya untuk menyelami narasi sejarah personal yang dialami oleh para tahanan masa perang atau prisoners of war (POW).

Konferensi dibuka dengan kata sambutan dari Yukari Tangena-Suzuki, selaku pemimpin Yayasan Dialoog NJI, yang menuturkan perjalanan Dialog NJI dalam upaya menghadirkan dialog antar bangsa dan lintas generasi di Belanda, Jepang, dan Indonesia. Perang tidak hanya mempengaruhi kehidupan di tingkat negara, tapi juga pada rincian kehidupan tiap-tiap orang secara personal. Bagi para tahanan di masa itu, secara khusus perang menyisakan luka dan, tidak jarang, dendam. Dialog yang terbuka kemudian menjadi langkah krusial untuk menjajaki kemungkinan rekonsiliasi antar pribadi yang secara langsung mengalami masa-masa perang tersebut.

Beberapa pembicara diundang untuk memperkaya pemahaman para peserta tentang sejarah personal yang menjadi bagian dari narasi PD II. Andre Schram berbagi kisah tentang ayahnya yang pernah menjadi tahanan di salah satu kamp tahanan perang di Nagasaki. Pada tahun 2009, ia berkesempatan untuk menelusuri jejak masa lalu ayahnya di kamp tersebut dan bertemu dengan beberapa orang yang membantunya membentuk pemahaman yang lebih komprehensif tentang ayahnya. Henk Kleijn, seorang Belanda dengan garis keturunan Indonesia, turut membagikan kisah hidupnya di masa PD II berlangsung. Beliau merupakan salah seorang anggota angkatan laut Kerajaan Belanda pada masa tersebut. Saat menjalankan sebuah misi, beliau ditangkap dan ditempatkan di kamp Fukuoka-2. Dalam narasinya, beliau menuturkan cerita harian sebagai seorang tahanan perang. Pembicara lainnya adalah Taeko Sasamoto dan Yuko Watanuki, yang dengan caranya masing-masing menemukan upaya untuk memfasilitasi terjadinya rekonsiliasi. Taeko bersama POW Research Network Japan mengembangkan riset tentang tahanan perang di masa PD II dan menjembatani pertemuan dengan para tahanan perang serta keluarga mereka. Upaya tersebut mengantarnya pada beberapa kesempatan untuk mempelajari lebih jauh sejarah keterlibatan Jepang dalam PD II, juga pada beberapa cara yang memungkinkan terjadinya dialog antar pihak dengan rekonsiliasi sebagai tujuannya. Sementara itu, Yuko menceritakan kisahnya mengembangkan sebuah yayasan yang membantu proses advokasi bagi para penyintas peristiwa bom atom di Nagasaki, atau bisa disebut dengan istilah hibakusha. Hal tersebut memberikan ia kesempatan untuk belajar tentang berbagai macam cara para penyintas berdamai dengan pengalamannya di masa perang. Ghamal Satya Mohammad, Ketua PPI Leiden, turut menyampaikan buah pengalamannya sebagai cucu dari seorang veteran perang.

Lewat pengalaman bersama kakeknya, ia sampai pada kesimpulan bahwa perang meninggalkan banyak hal baik maupun buruk bagi banyak orang. Dialog kemudian menjadi langkah kunci untuk memulai kemungkinan berdamai dengan pengalaman tersebut. Para peserta konferensi kemudian dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling berbagi keterkaitan pun ketertarikan personal mereka tentang masa PD II. Dialog hari itu membawa para peserta pada kesimpulan bahwa rekonsiliasi tanpa upaya memahami apa yang benar terjadi dalam narasi sejarah tersebut adalah sia-sia. Untuk tumbuh dari ketidakpedulian hingga terbentuknya sebuah pengetahuan dan pemahaman akan suatu pengalaman sejarah memang membutuhkan upaya yang besar, namun hal ini penting untuk disadari dan diusahakan secara kolektif. Narasi-narasi personal yang dituturkan lewat dialog dapat memfasilitasi terbentuknya empati dalam upaya menuju rekonsilasi antar pribadi. Bagi generasi muda, hal tersebut akan menjadi pegangan yang berharga dalam memahami potongan sejarah yang tidak dialami secara langsung. Berbekal pemahaman tersebut, dengan caranya sendiri, setiap generasi dapat belajar dari pengalaman akan yang lalu dan merumuskan bentuk rekonsiliasi yang tepat sesuai masanya. Termasuk kita sebagai generasi muda Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s