Antara Jokowi, Leiden, dan Kami

Pada 22 April 2016 lalu, Presiden Jokowi datang ke Universitas Leiden sebagai bagian dari kunjungan Kepresidenan ke Belanda. Bagi kami, hal ini sungguh istimewa.  Kedatangan  Presiden Jokowi ke Leiden menjadikan beliau sebagai Presiden Indonesia pertama yang datang ke kota ini. Maknanya jelas, bahwa Pak Jokowi menganggap penting persoalan pendidikan bangsa Indonesia. Secara informal, pengumuman kunjungannya sudah PPI Leiden terima sembilan hari sebelumnya melalui korespondensi dengan Direktur KITLV Jakarta, Bapak Marrik Bellen.  Secara formal, pengumuman kunjungannya baru kami ketahui tiga hari sebelum acara melalui email yang dikirim oleh koordinator protokol universitas, Rosalien van der Poel. Selama hari-hari itu kami menunggu ‘harap-harap cemas’ karena memang masih ada kemungkinan kunjungannya dibatalkan pada hari yang dinanti,  atau mungkin dijadikan sebagai spouse program dari kunjungan kepresidenan kali ini. Namun akhirnya, pada hari Jumat tanggal 22 April, kurang lebih pukul 4 sore, dalam cuaca yang sejuk, iring-iringan Presiden Jokowi tiba di Leiden. Ia datang bersama dengan Menteri Luar Negeri Indonesia yang juga mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda, Ibu Retno Marsudi, Sekretaris Kabinet Bapak Pramono Anung, Menteri Perdagangan Bapak Thomas Lembong, Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Bapak Darmin Nasution, Duta Besar Republik Indonesia Bekuasa Penuh untuk Belanda Bapak I Gusti Agung Wesaka Puja, para staf ahli kepresidenan, dan staf KBRI Den Haag. Pejabat kerajaan Belanda, diantaranya Menteri Pendidikan, Budaya, dan Sains Belanda, Ibu Jet Bussemaker, Walikota Leiden Bapak Henri Lenferink, Rektor Magnificus Universitas Leiden Prof. Carel Stolker, dan juga beberapa Profesor studi Indonesia, diantaranya Prof. Jan Michiel Otto (Fakultas Hukum Universitas Leiden) – Van Vollenhoven Institute), Prof. Henk Schulte Norholdt (KITLV- Universitas Leiden), Prof. Geert Oostindie (KITLV – Universitas Leiden), Prof. Wim van der Molen (KITLV – Universitas Leiden) dan Prof. David Henley (LIAS – Universitas Leiden). Dalam kesempatan ini, Prof. Stolker dan Prof. Otto memberikan sambutannya kepada delegasi RI (terlampir).

Kami mahasiswa Indonesia yang ada di Leiden yang berjumlah sekitar 100 orang, berikut dengan beberapa pengajar orang Indonesia di Leiden berdesak-desakan ingin menyambutnya. Ketibaan Jokowi di halaman gedung Academiegebouw Universitas Leiden lantas kami sambut dengan nyanyian “tanah airku tidak kulupakan … kan terkenang selama hidupku … biarpun saya pergi jauh … Tidak ‘kan hilang dari kalbu … “, yang muncul secara spontan dari kegembiraan kami dengan kedatangan Presiden Jokowi. Sebagian dari kami berkaca-kaca dan haru ketika bernyanyi. Kemudian Presiden Jokowi datang menyalami hampir kami semua dan bertanya singkat tentang apa yang kami pelajari di Leiden. Rupanya gaya blusukan Presiden Jokowi tidak cukup ia lakukan di tanah air, dengan kami pun ia blusukan dengan berusaha untuk menyapa kami satu-satu. Setelah usai kami bersalaman, Presiden Jokowi masuk ke gedung Academiegebouw untuk acara penyambutan dari Universitas Leiden. Beliau melihat beberapa koleksi naskah dan peta kuno Indonesia yang disimpan di Perpustakaan Leiden, serta turut pula melihat Zweetkamertje, tempat dimana lulusan  Leiden membubuhkan tanda tangannya di tembok ruangan sebagai upaya “meninggalkan jejak” (termasuk tanda tangan dari Anak Agung Gede Agung, Winston Churchill, dan Nelson Mandela).  Di Academiegebouw, presiden Jokowi juga mengunjungi patung Hoesein Djajadiningrat, Mahasiswa Indonesia pertama yang meraih gelar PhD di Universitas Leiden pada taun 1913.

Indonesia dan Universitas Leiden memiliki ikatan yang erat, sejarah yang panjang. Hubungannya terbentuk bahkan jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. Orang-orang Indonesia pertama yang dikirim belajar ke Belanda hampir sebagian dikirim ke Universitas Leiden, dan salah satu buktinya adalah sosok yang disebutkan di atas: Hoesein Djajadiningrat. Cikal bakal Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) yang sekarang tersebar di seluruh dunia pun berdiri di kota ini. ‘Sepak terjang’ mahasiswa Indonesia di Leiden adalah sebuah sejarah yang akan terus berjalan seiring bergeraknya arus kehidupan di kota ini.


Kutipan teks sambutan dari Rector Magnificus Universitas Leiden, Prof. Carel Stolker (Leiden 22 April 2016)

Your excellency, Mr. President Joko Widodo,

Your excellencies,

  • Mrs. Retno Marsudi, minister of foreign affairs
  • Mr. Darmin Nasution, coordinating minister for the economy
  • Mr. Thomas Trikasih Lembong, minister of the trade
  • Mr. Pramono Anung, Minister State Secretary
  • Mr. Franky Sibarani, Head of the Indonesian Investment Agency,
  • Mr. I Gusti Agung Wesaka Pudja, Ambassador of Indonesia in the Netherlands,
  • Madamme Jet Bussemaker, Minister of Education, Culture, and Science,
  • Mr. Henri Lenferink, Mr. Mayor of the City of Leiden,
  • Colleagues of Leiden University, PhD researchers and students!

A warm welcome to Leiden University. It is a great privilege for us, Mr. President, that you have found the time in your very tight schedule during your one-day visit to the Netherlands to come to visit us. Leiden University and Indonesia have had close connections over a very long period.

In 2013 we celebrated that 100 years ago, in 1913, Prof. Husein Djajadiningrat received his doctoral degree in Humanities cum laude at this very place. He became the first Indonesian professor and is still known as the founding father of Indonesia’s history studies.

To honor him, we now have a statue which we will soon take a look at.

And now from history to present day:

Just last week we received a delegation headed by the Rector of Universitas Indonesia.

Together we were able to give a strong impetus to the existing collaboration between our two universities, in areas ranging from medicine and biodiversity to history, law, social sciences, and religion.

Leiden University host professors and other academic staff who have specialised in these fields in Indonesia in particular, among others Prof. Henley in modern Indonesian studies, Prof. Gert Oostindie and prof. Henk Schulte Nordholdt in Indonesian history at KITLV, prof. Van der Molen in Javanese Language, and prof. Otto of the Van Vollenhoven Institute for law, governance, and development, all doing research and offering courses on Indonesia.

Less than two years ago we welcomed former Vice-President Boediono. He gave a most inspiring lecture here in this Academy Building about the chalenges and future of Indonesia.

And in that same year I personally paid a visit to the son of Sultan and former Vice President Hamengku Buwono IX who was one of our alumni. The Sultan had to leave Leiden just before the Second World War, and also just before he was due to receive his Leiden University diploma. Therefore the son of the Sultan received his father’s dimploma from me, just to put the matter right.

Speaking of our more than 600 Indonesian alumni – they include famous men, but also women such as Maria Ulfah Santoso: Indonesian women’s rights activist and first female minister of Indonesia. She actually was the first Indonesian woman to receive a degree in law from Leiden.

Today our academic relationships have matured and branched out in many fields of science, which unfortunately I cannot all mention, nor can I mention all the Indonesian universities and ministries with which we collaborate.

So, be assured Mr. president, that in this new era Leiden University will remain Indonesia’s most partner in many fields.

I have asked Professor Jan Michiel Otto, director of the Van Vollenhoven Institute to speak briefly about our longstanding collaboration in the area of law, and to do so in their working language, Bahasa Indonesia.

After that, our Chief Librarian, Mr. Kurt de Belder, will briefly show you the Maps in the so-called Crowd Project.

Once again, Mr. President, Your Excellencies, it is a tremendous pleasure to have you here today!

(teks dikutip tanpa perubahan dari naskah aslinya)


Kutipan teks sambutan dari Prof. Jan Michiel Otto (Leiden, 22 April 2016)

Yang terhormat Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo.

Yang terhormat Ibu dan Bapak-bapak menteri,

Yang kami hormati, segenap rombongan kunjungan kerja Presiden.

Baru-baru ini Pak Rektor mengatakan bahwa Universitas Leiden mendirikan patung Prof.Djajadiningrat sebagai kenangan atas prestasi beliau. Pada waktu itu Leiden menjadi pusat pendidikan untuk pemerintahan Hindia Belanda, tetapi Leiden adalah juga sebuah pusat untuk perdebatan yang bebas.

Seratus tahun yang lalu, politisi dan ahli hukum Belanda pada umumnya berpendapat bahwa perusahaan Belanda dapat menyewa lahan-lahan manapun dari pemerintah kolonial. Tetapi professor Van Vollenhoven tegas tidak sependapat. Beliau kokoh berpendirian bahwa masyarakat desa Indonesia-lah yang sebenarnya berhak atas tanah-tanah itu, bukan milik pemerintah kolonial. Sebab, hukum instrumen ekonomie tetapi juga instrumen untuk keadilan sosial.

Tulisan Prof. Van Vollenhoven masih relevan sampai sekarang. Mahkamah Konstitusi Indonesia pada kasus nomor tigapuluh lima/tahun dua ribu duabelas (35/2012), merujuk pada karya beliau, mengenai pengakuan atas hutan adat, dan memerintahkan pembuat undang-undang untuk menyesuaikan UU tentang Kehutanan dengan pengakuan itu.

Bapak Presiden yang kami muliakan, dan hadirin yang terhormat,

Kami terus melakukan riset tentang hukum adat dan hukum Islam, tetapi sementara itu, memperhatikan tantangan yang dihadapi Indonesia, kerjasama fakultas hukum kita difokuskan utamanya pada hukum modern, hukum konstitusi dan administrasi, hukum pidana, dan hukum perdata. Penelitian kita bukanlah hanya sekedar mengenai aturan-aturan hukum tertulis, tetapi adalah mengenai hukum, masyarakat dan pembangunan.

Riset itu dilakukan baik dengan perguruan tinggi maupun dengan Mahkamah Agung, Komisi Ombudsman, Kementerian Hukum dan HAM, Desa dan Dalam Negeri. Bersama KITLV tahun ini Leiden akan menjadi tuan rumah konperensi mengenai Undang-Undang Desa. Tahun ini juga, Universitas Leiden dan  KITLV telah mendirikan posisi baru Guru Besar di Leiden untuk Hukum dan Masyarakat Indonesia.

Bapak Presiden yang kami muliakan dan seluruh rombongan yang amat kami hargakan.

Sekarang, peneliti PhD Indonesia datang ke Leiden dengan dukungan dana swadaya, baik pribadi maupun publik.  Di Leiden mereka dapat memanfaatkan koleksi perpustakaan mengenai Indonesia, sejarahnya, hukumnya, masyarakatnya, dan staf akademis dan perpustakaan yang memiliki perhatian yang mendalam tentang Indonesia.

Pada umumnya peneliti dari Indonesia masih muda-muda, tetapi ada juga yang sudah pensiun, misalnya Bapak Jakob Tobing, mantan Ketua Panitia Ad-Hoc Amandemen UUD, tesis beliau adalah refleksi proses perubahan konstitusi Indonesia.

Akhirnya, Bapak Presiden yang terhormat, semoga kerjasama Universitas Leiden dengan pendidikan tinggi dan riset di Indonesia dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia, yang sekarang ini maju pesat.

Terima kasih.

Prof. Jan Michiel Otto

Van Vollenhoven Institute for Law, Governance and Development

Universitas Leiden, Belanda 22 April 2016

 

(teks dikutip tanpa perubahan dari naskah aslinya)

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s