PPI Leiden menghadiri undangan acara Dodenherdenking, 4 Mei 2016

Precies in mijn straatje zijn (sesuatu terjadi pada saat yang tepat). Pepatah tersebut kiranya dapat menggambarkan kehormatan yang diterima oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Leiden dari Burgemeester (walikota) Leiden. Hari Rabu, 4 Mei 2016 PPI Leiden diundang secara khusus untuk menghadiri peringatan atas warga kota yang gugur pada Perang Dunia II (1939 – 1945). Dalam kesempatan ini hadir Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda Bapak I Gusti Agung Wesaka Puja, minister counsellor Azis Nurwahyudi, dan staf kedutaan Denise Zaitun. Stichting Merapi, perkumpulan keluarga eks-anggota Perhimpunan Indonesia (PI) juga turut hadir.  Acara yang dalam Bahasa Belanda disebut dengan “Dodenherdenking” (Mengenang Mereka yang Gugur) ini merupakan event tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah kota Leiden di Pieterskerk, sebuah gereja yang menjadi cikal-bakal lambang kota Leiden sekarang. Tahun ini amatlah istimewa karena seorang mahasiswa Indonesia yang turut menjadi martir dalam usaha pembebasan Belanda dari pendudukan Jerman secara khusus diperingati.

Irawan Soejono, 24 tahun, mahasiswa Indonesia di kota Leiden yang terlibat dalam gerakan resistensi Belanda tersebut meninggal karena ditembak oleh tentara Nazi Jerman pada tanggal 13 Januari 1945. Irawan bersama rekan-rekan mahasiswa Indonesia yang terlibat dalam gerakan bawah tanah tersebut menggenggam prinsip bahwa “kemerdekaan ialah hak segala bangsa”. Ibarat “roket bermesin ganda”, mereka tidak hanya berjuang untuk kebebasan tanah air mereka dari penjajahan Belanda, namun juga berjuang untuk membantu Belanda terbebas dari pendudukan Jerman. Walikota Leiden, Henri Lenferink dalam pidatonya secara khusus menyebutkan peran Perhimpunan Indonesia yang signifikan pada periode tersebut. Mengutip pernyataan dari PI setelah perang, Lenferink mengatakan bahwa orang Indonesia, “..ikut dalam perlawanan umum melawan deportasi dan arbeidseinsatz (kerja paksa), ikut dalam perlawanan pelajar dan dokter, dalam spionase dan sabotase, pembuatan surat-surat palsu dan penyerangan terhadap kantor-kantor pendistribusian barang, penyebaran dan penulisan artikel untuk publikasi ilegal, dimana unit berita dan selebaran perlawanan serta pembentukan Barisan Irawan dari Perhimpunan Indonesia, sebagai bagian dari Dutch Internal Army, melengkapi gerakan perlawanan. Juga orang Indonesia disini di negeri Belanda telah memberikan pengorbanannya baik itu jiwanya maupun materi, seperti yang dilakukan oleh banyak orang Belanda.”

Acara ditutup oleh persembahan musik dari Ernst Jansz (dari grup Doe Maar yang terkenal) berupa sebuah lagu berjudul Ballade van Nina Bobo. Setelah itu di halaman Pieterskerk, rangkaian bunga dipersembahkan di depan monumen Bevrijding (pembebasan) oleh Kedutaan Besar RI, Stichting Merapi, yayasan-yayasan yang terlibat, para veteran, keluarga veteran, serta publik kota Leiden. PPI Leiden yang dianggap oleh pihak Kota Leiden sebagai penerus dari Perhimpunan Indonesia mendapat tempat khusus pada acara tersebut. Akhir kata, akan kami kutip pernyataan dari Professor Cleveringa dari Universitas Leiden pada tanggal 25 Mei 1945 yang juga turut disampaikan oleh Walikota Lenferink, bahwa: “Dimanapun gerakan perlawanan terjadi di Belanda, kita tidak perlu bertanya: dimana orang Indonesia?  Mereka ada disana dan berjaga. Mereka ada di kamp konsentrasi. Mereka dipenjara. Mereka ada dimana-mana..”

 

Upacara pemberian karangan bunga
Saat upacara di halaman depan Pieterskerk, 4 Mei 2016.

 

PPI Leiden
PPI Leiden di Pieterskerk, Leiden, 4 Mei 2016  (Kiri-kanan: Mark van de Water, Tio Mardianto, Pier Terwen, Melita Tarisa, Crystal Susiana, Eri Sidharta, Tika Ramadhini, Amelinda Bonita, Amalia Putri, Louie Buana, Deni Ismail).

 

speech lenferink
Penyampaian pidato dari Walikota Leiden, Henri Lenferink. Pieterskerk, Leiden, 4 Mei 2016.

 

ernst janz
Ernst Jansz, membawakan lagu Ballade van Nina Bobo. Pieterskerk, Leiden, 4 Mei 2016.

 

penghormatan di depan karangan bunga simbolis
Suasana di penghujung upacara. Tampak tengah monumen Bevrijding. Pieterskerk, Leiden, 4 Mei 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s