Kunst Avond Batavia 1920: Gaya Anak Leiden Merawat Tradisi Berguyub

Pada hari Sabtu, 27 Februari 2015, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Leiden merayakan ragam ekspresi seni dan budaya dalam pagelaran Kunst Avond Batavia 1920. Lewat acara tersebut, berbagai elemen masyarakat Indonesia di Leiden berkumpul untuk unjuk gaya dengan menampilkan tari tradisional, pembacaan puisi, persembahan lagu, dan lenong “Kemal van Leiden” yang menjadi suguhan ‘dari Leiden untuk Leiden’. Sepanjang malam, yang tua hingga yang muda, yang kuliah hingga yang kerja, yang baru datang hingga yang sudah beberapa lama menetap turut serta dalam merayakan hangatnya persaudaraan yang guyub di sekitar panggung sederhana Q-Bus Muziekhuis.

IMG_1556.JPG

Acara dibuka dengan Tarian Pasambahan yang dipersembahkan oleh grup tari Archipelago. Ketua PPI Leiden, Ghamal Satya Mohammad, menyatakan dalam sambutannya bahwa ia berharap Kunst Avond dapat menjadi wadah pertemuan antar masyarakat Indonesia di Leiden untuk menjalin keakraban dan menumbuhkan rasa persahabatan. Bambang Hari Wibisono, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Belanda yang turut hadir dalam acara malam itu juga menyatakan apresiasi dan dukungannya untuk upaya PPI Leiden merawat tradisi berguyub lewat pentas seni dan budaya. Menurut Rani Krisnamurthi, Ketua Pelaksana Kunst Avond PPI Leiden, acara yang bertajuk nuansa Batavia 1920 tersebut memang bertujuan untuk membagun keakraban dan kebersamaan berbagai elemen masyarakat Indonesia di Leiden. “Yang tua, muda, sedang kuliah S2, S3, atau sudah kerja, berkeluarga, dan menetap di sini dapat berbagi panggung pada malam ini dan saling berkenalan,” ujarnya.

This slideshow requires JavaScript.

                Trio penyanyi cilik Lana, Raya & Veeza tampil membawakan beberapa lagu anak dalam bahasa Belanda seperti Waroom Moet Ik Gaan. Grup tari Archipelago mementaskan Tari Piring dengan memukau sebelum acara berlanjut untuk menampilkan beberapa grup musik akustik yang berasal dari Leiden. Grup De Klok tampil membawakan lagu-lagu populer masa kini seperti Love Yourself (Justin Bieber) dan hits dari band local yaitu Penggalan Kisah Lama (La Luna) Beberapa mahasiswi psikologi di Leiden turut meramaikan acara dengan mengajak penonton mengenang lagu-lagu kartun masa kecil seperti Mojacko dan Doraemon. Grup Cireng Mentereng mengemas beberapa lagu lawas seperti Juwita Malam dan Inikah Cinta dalam penampilan yang unik dan menarik. Grup Kampoeng Melayu pun tampil memukau dengan membawakan beberapa lagu Indonesia-melayu dengan irama blues dan keroncong. Pembacaan puisi karya Goenawan Mohammad  dari Koko Sudarmoko memperkaya warna pentas seni warga Leiden di Kunst Avond.

Lenong “Kemal van Leiden”, yang menceritakan perjalanan Kemal, anak Betawi yang merantau ke Belanda di tahun 1920, menjadi penutup acara malam itu. Penonton diajak berdialog dan larut dalam tawa yang mengiringi kisah Kemal dan keluarganya dari Batavia hingga ke Leiden. Dilengkapi dengan bazaar aneka makanan Indonesia seperti jajanan pasar es cendol, soto betawi, nasi kebuli, dan gorengan, Kunst Avond sukses memberikan ruang bagi warga Leiden untuk berkumpul dan berupaya merawat tradisi berguyub.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s