Meneruskan Tradisi

Teks disampaikan oleh Ghamal Satya Mohammad pada pembukaan acara Lapor Diri Mahasiswa Baru di Leiden

Gedung Lipsius, Universitas Leiden
7 Oktober 2015

Avs6cdxE3vKq0_ZQK0VmhCulW-Qieb0R_Fi9qZig_57L

Ada yang berbeda dengan Leiden. Kota ini dan penduduknya memiliki keterikatan batin dengan bangsa Indonesia. Dari kota ini misalnya, para pelajar Indonesia dahulu merajut paham kebangsaan Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Kemudian, para pelajar Indonesia di Leiden ikut serta melawan tentara Nazi Jerman yang menguasai Belanda di masa Perang Dunia ke II. Mereka memiliki pandangan, bahwa penjajahan mesti dilawan, walaupun itu terjadi di negeri penjajah itu sendiri. Perjuangan mereka akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 1945 Belanda terbebaskan dari kekuasaan Fasis Jerman. Barisan Irawan, kelompok perlawanan dari pelajar Indonesia, berjalan dengan gagahnya diantara ribuan tentara sekutu dalam parade pembebasan Belanda. Melewati sisi sungai Oude Rijn, kemudian dilanjutkan melewati Breestraat, dan seterusnya, diiringi oleh gegap gempita rakyat Belanda di Leiden. Pada kesempatan lain setelah perang, seorang pelajar perempuan Indonesia dari Leiden, Evy Poetiray, mendapat kesempatan berbicara di depan ribuan orang Belanda. Dia bertanya, “saudara-saudara, apakah bersedia menerima kemerdekaan bangsa Indonesia?” Kemudian dijawab dengan riuh, “bersedia!” Itulah. Pengalaman batin yang dibentuk dengan ketulusan dan kesadaran akan nilai humanisme, mampu mengalahkan ego manusia. Menggugah hati nurani siapapun, walaupun tembok tirani kadang kala menutupi celah-celah kebenaran. Pengalaman para pendahulu kita, para pelajar Indonesia di Leiden, membuktikan hal tersebut.

Lewat Rentang waktu yang cukup panjang dari masa itu, tibalah kita semua di Leiden. Kota yang pernah menjadi saksi akan ketulusan dan perjuangan orang Indonesia. Pada masa ini berbagai tantangan baru menghadang dari segala penjuru. Demikian juga dengan harapan baru. Para pelajar Indonesia di Leiden memiliki tradisi luhur untuk belajar tanpa menanggalkan kepekaan akan keadaan sekitar. Disini, kita tidak hanya belajar sejarah, tetapi juga belajar dari sejarah. Kita jadikan tradisi sebagai pedoman untuk melihat permasalahan kekinian. Menanggapi isu anti Islam yang muncul lagi di Eropa pasca insiden Charlie Hebdo di Perancis, misalnya, kita perlu bersikap proaktif dengan menanyakan kepada diri sendiri terlebih dahulu, sudahkan kita mencerminkan diri sebagai insan cendekia, yang mampu memberikan pemahaman bahwa keyakinan agama bukanlah musuh. Pikiran jahat yang bisa muncul dari manusia lah yang perlu diwaspadai, dari manapun si manusia berasal. Menanggapi kasus ancaman penembakan yang sedang hangat di Universitas Leiden sejak kemarin, kita perlu meyakinkan diri bahwa pelajar Indonesia tidak gentar menghadapi ancaman yang mengganggu proses belajar, dan juga terus meningkatkan kewaspadaan dimanapun kita berada. Selanjutnya, kita katakan “tidak!” pada berbagai bentuk kejahatan dan kepalsuan.

Kepada para pelajar yang baru tiba di Leiden, saya ucapkan selamat karena sudah menjadi bagian dari sejarah pelajar Indonesia di kota ini. Mudah-mudahan kita semua mampu untuk meneruskan tradisi baik dari para pendahulu kita. Semoga usaha kita untuk tulus belajar dan belajar ini senantiasa mendapat rahmat dari Tuhan yang Maha Kuasa. Sekian.

Wassalammualaikum wr. Wb.
Selamat malam

-PPI Leiden
Meneruskan Tradisi-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s