Keistimewaan

*diadaptasi dari Pidato Pembukaan Lapor Diri Leiden, Tahun Ajaran 2014/2015

Selamat malam teman-teman semua. Sebelum kita memulai acara lapor diri malam ini, perkenankan saya menyampaikan suatu cerita.

herman_lapordiri

Semalam ketika saya mengecek Facebook saya, ada seorang teman yang membagikan suatu cerita yang sangat menarik – yang mungkin juga sudah teman-teman baca. Cerita tersebut adalah mengenai seorang guru yang mengajarkan makna keistimewaan (privilege) kepada murid-muridnya.

Guru tersebut mengajak murid-muridnya bermain suatu permainan sederhana. Instruksinya mudah saja, semua murid dipersilakan untuk menyiapkan selembar kertas yang diremas membentuk sebuah bola. Masing-masing murid berperan mewakili suatu negara yang dapat naik kelas sosial jika dapat melalui suatu permainan. Guru tersebut kemudian meletakkan sebuah keranjang di depan kelas dan mengatakan bahwa yang dapat melempar bola kertas tadi secara akurat hingga masuk ke dalamnya dapat naik ke kelas sosial yang lebih tinggi.

Sontak murid-murid yang berada di belakang kelas protes bahwa hal itu tidak adil. Mereka tidak dapat membididik sebaik murid-murid yang berada di depan karena tidak dapat melihat keranjang tersebut dengan jelas. Murid-murid yang di depan tidak ada yang protes dan sang guru pun tidak bereaksi atas protes tersebut. Permainan pun dimulai, dan seperti yang diduga, lebih banyak murid-murid yang duduk di bangku depan yang dapat memasukkan bola kertas tadi ke dalam keranjang dibandingkan murid-murid yang berada di belakang. Sang guru pun kemudian mengatakan, “bagi kalian yang duduk di depan, itulah keistimewaan!” Ia lalu lanjut mengingatkan bahwa murid-murid yang di depan tadi tidak melakukan protes. Ini seringkali terjadi karena kita lupa bahwa kita memiliki keistimewaan tersebut. Tugas kita sebagai seorang yang mendapatkan pendidikan – suatu bentuk keistimewaan – adalah untuk tidak melupakan bahwa kita telah mendapatkan keistimewaan tersebut dan berupaya mengadvokasi rekan-rekan yang tidak bisa mendapatkan akses ke keistimewaan tersebut, melalui cara masing-masing dalam bidang kepedulian masing-masing.

Kebetulan siang ini saya juga menyempatkan diri membaca presentasi dari Menteri Pendidikan Dasar & Menengah dan Kebudayaan kita yang baru, Pak Anies Baswedan. Presentasi 60 halaman beliau berjudul “Gawat Darurat Pendidikan di Indonesia.” Pada bagian yang positif, beliau memaparkan mengenai jumlah mahasiswa yang meningkat dari kurang lebih 250.000 per tahun pada tahun 1970 hingga mencapai lebih dari 3.500.000 pada tahun 2007. Penelusuran saya lebih lanjut menemukan bahwa pada tahun 2011, jumlah mahasiswa per tahun berkisar 4.800.000 per tahun – walaupun positif, namun angka ini masih relatif tidak banyak mengingat penduduk Indonesia berjumlah sekitar 220.000.000.000 jiwa. Jika dibandingkan dengan populasi kelompok umur 19-30 tahun, jumlah tersebut bahkan tidak mencapai 20% – artinya, hanya 1 dari 5 orang Indonesia yang dapat menempuh jenjang pendidikan tinggi. Belum lagi, dari hasil penelusuran saya lebih lanjut lagi, pada tahun 2010 jumlah mahasiswa yang dapat melanjutkan ke jenjang pascasarjana seperti kita di sini hanya 20.000 per tahunnya. Jumlah yang sangat, sangat, sangat sedikit. Kita tidak boleh lupa bahwa kita mendapatkan keistimewaan yang teramat sangat.

Ditambah lagi, kita menempuh studi di salah satu perguruan tinggi terkemuka di dunia yang menurut beberapa lembaga survei merupakan universitas nomor satu di Belanda dan masuk dalam daftar seratus besar dunia (top 1%). Walaupun sangat sulit dan perjuangan kita sangat keras, kita masih boleh berbangga karena ada beberapa teman kita di sini mendapatkan kesempatan yang sangat langka. Dalam rentang waktu tiga bulan ini, dua teman dari kita terpilih untuk mewakili Universiteit Leiden dalam ajang WTO Moot Court Competition, satu teman dalam ajang International Air and Space Law Moot Court Competition, dan beberapa teman menjadi representasi mahasiswa internasional di kampus ini. Di bidang seni dan olahraga, ada juga teman-teman kita yang aktif terlibat berlatih seni tari tradisional Indonesia serta ada yang mewakili kampus dalam kejuaraan futsal dunia yang diselenggarakan oleh International Student Network. Tentu saja tak ketinggalan bahwa salah satu dari kita merupakan Sekretaris Jenderal PPI Belanda periode ini.

Kita patut berbangga bahwa kita ternyata masih mampu membawa dan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, dalam berbagai skala, di universitas tertua di Belanda ini. Tugas kita selanjutnya adalah terus menunjukkan daya saing kita, supaya Indonesia lebih dikenal dan didengar di kancah internasional, melalui perbuatan-perbuatan positif dan kontribusi kita sehari-hari, baik di dalam kegiatan akademik maupun non-akademik, sekecil apa pun. Akhir kata, jangan lupakan bahwa kita telah mendapatkan keistimewaan yang luar biasa ini. Inilah bekal kita untuk mencapai hal-hal luar biasa dan bekal kita untuk berkontribusi membangun negara kita tercinta. Lakukan untuk Indonesia, lakukan untuk orang-orang yang tidak bisa mendapatkan keistimewaan ini. Terima kasih.

Leiden, 2 Desember 2014
Herman Yosef Paryono
Ketua PPI Leiden Periode 2014-2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s