Tradisi Gintingan di Kabupaten Subang: Peran Institusi Lokal dalam Pembangunan Masyarakat

 Pembicara/Narasumber: Kurniawan Saefullah*

Notulis dan Penulis Artikel: Wildan Sena Utama**

Empat tahun yang lalu Universitas Leiden, Belanda dan Universitas Padjajaran mengadakan kerjasama dalam riset pembiayaan mikro (microfinance) untuk mengkaji tentang kemiskinan. Salah satu yang terlibat dalam penelitian ini ialah Kurniawan Saefullah, salah seorang dosen di Fakultas Ekonomi, Universitas Padjajaran. Dia melakukan riset untuk disertasinya tentang tradisi gintingan dalam pembangunan masyarakat Subang.

Dalam acara diskusi bulanan PPI Leiden pada 28 Oktober 2013, di Lipsius, Universitas Leiden, Kang Kur, biasa dia disapa, menjelaskan tentang risetnya tersebut. Berikut adalah reportase mengenai diskusi yang diangkat dari disertasi Kang Kur.

Pembahasan tentang kemiskinan dalam diskursus pembangunan merupakan salah satu kajian yang tidak pernah habis. Sebab kemiskinan masih terus hadir dan menjadi problem di berbagai negara.

Dalam ilmu ekonomi, pembiayaan mikro merupakan salah satu tool pengentasan kemiskinan. Pembiayaan mikro adalah instrumen atau institusi yang establish, diadakan untuk mengubah masyarakat dari inable menjadi able. Bentuk pembiayaan mikro ada dua: banking institution dan nonbanking institution.

Dalam masyarakat, indikator well being tidak hanya dinilai dari aspek material, income oriented. Tetapi juga perlu diukur dari aspek sosial dan aspek kemanusiaan. Aspek sosial maksudnya adalah manusia tidak hanya sekedar memperoleh income dan dia berhasil memenuhi kebutuhannya, namun, manusia juga membutuhkan aspek sosial seperti, mempunyai hubungan yang baik dengan keluarganya atau dengan tetangganya.

Selain itu dalam konsep pembangunan ada yang dinamakan konsep pembangunan dari dalam, endogenous development. Pada konsep ini, ukuran-ukuran kebahagiaan menjadi lebih tergantung dari dalam masyarakat terse but. Apa yang menjadi kebahagiaan dalam masyarakat urban berbeda dengan masyarakat di pedesaan.

Dalam endogenous development, program-program improvement harus mendengarkan apa yang ada di dalam masyarakat itu. Kita harus tahu ukuran-ukuran kebahagiaan menurut mereka, bagaimana mereka melakukan cara untuk merealisasikan dan mencapai kebahagiaan itu. Konsep pembangunan dari dalam ternyata merupakan sesuatu yang masih ada dan dijalankan oleh beberapa komunitas masyarakat di Indonesia. Salah satunya adalah tradisi gintingan yang diangkat dalam disertasi Kang Kur ini.

Gintingan adalah tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat Subang. Berupa mekanisme gotong royong yang dilakukan masyarakat Subang untuk menolong sesama dalam masyarakat itu. Gintingan berasal dari kata gantang. “Gantang itu semacam baskom tempat untuk mengukur satuan beras,” ujar Kang Kur.

Sehari-harinya mekanisme gintingan berlangsung ketika dalam masyarakat ada seseorang yang sedang mempunyai hajat/kebutuhan yang penting maka ada tolong-menolong untuk membantu seseorang dalam masyarakat tersebut. Agar hajatannya itu bisa berlangsung lancar.

Inisiatif masyarakat dalam melakukan gintingan muncul dari masa kolonial. Gintingan muncul dari inisiatif masyarakat untuk membantu tetangganya ketika mereka mempunyai kebutuhan yang mendesak. Misalnya ketika seseorang membutuhkan dana 30 juta untuk menyelenggarakan hajatan, maka seseorang itu akan memberitahukan tokoh masyarakat/informal. Setelah itu tokoh masyarakat akan memberitahu kepada masyarakat sekitar. Lalu akan diadakan rapat di rumah si penyelenggara yang membutuhkan dana itu.

Dibuatlah sebuah panitia yang terkait dengan hajatan itu. Kemudian akan disebar gantangan kepada masyarakat di daerah itu tergantung dari besarnya rumah. Nanti ada panitia yang mencatat sumbangan dari setiap orang yang menyumbang. Besaran kontribusi itu nantinya akan menjadi “hutang” bagi si penyelanggara hajatan. Menariknya, undangan untuk meminta gantangan itu dilampiri dengan sabun colek.

Gintingan saat ini tidak hanya berupa beras, tapi bisa berupa uang dan emas. Bahkan dalam masyarakat Desa Cimanglid, mereka melakukan tradisi gintingan untuk membangun rumah. Misalnya, seseorang tidak mempunyai rumah, maka tokoh informal masyarakat tersebut akan menanyakan kapan ingin membangun rumah, maka tokoh masyarakat itu akan mencarikan tanah untuk dibangun rumah. Kemudian masyarakat akan membantu komponen-komponen bangunan, misalnya seseorang menyumbang batako. Dan misalkan ada seseorang yang tidak bisa membantu komponen bangunan maka dia akan membantu tenaga secara sukarela dalam pembangunan rumah itu.

Secara komparatif, Kang Kur menambahkan, tradisi gintingan juga dijalankan oleh komunitas masyarakat dari berbagai belahan dunia namun dengan nama yang berbeda. Dia mengatakan bahwa tradisi gintingan juga terdapat di Brunei, Filipina, dan Thailand.

* Mahasiswa doktoral di Universitas Leiden

** Mahasiswa Program Encompass 2013-2014, Universitas Leiden

2 Comments Add yours

  1. geografiunsil says:

    Salam Hangat dari Indonesia Ingin Sekali Sandwich ke Leiden, Tapi tahun lalu gagal tanpa keterangan Mungkin dari bahasa Inggris saya yang kurang memadai Padahal LoA sudah diperoleh Adakah Solusi dan saran strategis? Triems

    Like

  2. ni nyoman sudiani says:

    saya baru tahu tentang tradisi ini, terimakasih infonya ya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s