Laporan Diskusi: Pergerakan Anti-Neoliberalisme di Indonesia

Diskusi bersama Anwar ‘Sastro’ Ma’ruf (Perhimpunan Rakyat Pekerja/PRP)

(Herlambang Perdana Wiratraman) – Diskusi usai makan malam (20 Juni 2012 pukul 19.30-22.00 di Pondok Pak Mi) ini diawali dengan paparan kawan Sastro soal situasi gerakan sosial-politik, terutama kaum buruh dan kaum tani di Indonesia. Menurutnya, mulai berkembang kekuatan terorganisir untuk perubahan yang lebih ‘revolusioner’, termasuk merapatnya barisan kelompok kelas. Dalam paparan itu, ia mengemukakan sejumlah hal yang relatif mengundang perdebatan, antara lain soal partai politik yang benar-benar ‘partai’, dengan indikator memiliki kekuatan terorganisir, rekrutmen secara sistematis berikut pengkaderan politik, dalam sejarahnya hanya dimiliki oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) dan PKS (Partai Keadilan Sejahtera).

Sastro senantiasa menjelaskan pembahasaan ‘neoliberalisme’ dalam bahasa sederhana, misalnya dlam sektor buruh adalah ‘labour market fleksibility’, tekanan upah murah, pelemahan sistematis peran negara untuk proteksi buruh serta outsourcing/PKWTT (perjanjian kerja waktu tidak tertentu). Dengan begitu, buruh mulai memahami bahwa ada ‘ancaman’ yang kuat atas jaminan kesejahteraan mereka.

Dalam fase akhir paparannya, ia mengemukakan perlunya membangun kekuatan politik yang lebih terorganisir dan mampu membawa perubahan untuk kesejahteraan rakyat. Dalam hal itu, Sastro menekankan perlunya partai politik baru sebagai ‘alternatif’ dari stok partai politik yang ada sekarang. Meskipun belum cukup kuat, namun ia bersama sejumlah elemen gerakan lainnya, optimis dengan kekuatan (partai) politik baru itu.

Diskusi dipandu Herlambang Perdana (redaktur Jong Indonesia/PPI Belanda), mengajak seluruh peserta angkat bicara untuk merespon dalam bentuk pertanyaan, konfirmasi, klarifikasi dan catatan-catatan lainnya. Sejumlah pertanyaan tajam pula dialamatkan kepada narasumber, misalnya soal keraguan bangunan kekuatan politik baru di tengah sistem oligarkis, pertanyaan soal konsistensi atas agenda anti-neoliberalisme yang diusung, pula soal ‘kedewasaan’ serta otokritik atas kegagalan merawat konsistensi dan gerakan ‘bawah tanah’ terutama melawan kemapanan sosial-ekonomi yang kerap menghentikan nafas gerakan. Pak Mintardjo pula memberikan saran secara reflektif berkaitan dengan perlunya memahami cara ‘berfikir lawan’ untuk strategi memperkuat perlawanan.

Bagi Sastro, di akhir penutup diskusinya, rakyat di Indonesia tidak bisa dan jangan sekalipun berharap dengan sistem politik yang ada sekarang, apalagi sekadar memilih partai politikya. Membangun mimpi negeri harus diawali dengan keyakinan akan ada perubahan dari kekuatan mandiri secara politik untuk melawan kemapanan sistem politik oligarkis nan korup. Suata ajakan dus tantangan dari narasumber untuk mahasiswa Indonesia di Belanda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s