Simaki hal-hal baru dalam dalil-dalil SRI MARGANA Tentang ‘BLAMBANGAN’ ! (1)

Disertasi PhD Sri Margana pada Universitas Leiden, Nederland, 13 Dec 2007

Oleh: Ibrahim Isa

Pekan lalu, Kemis sore, 13 Desember 2007, pas cuaca sedang dingin-dinginnya, entah untuk ke-berapa kalinya aku berkeretapi dari station Duivendrecht, Amsterdam.Tujuan? Ke Leiden lagi! — Tetapi kali ini bukan ke rumah Mintardjo di Korenbloemlaan 59, Oestgeest; suatu tempat legendaris, dengan tuanrumahnya yang ramah; selalu terbuka bagi mahasiwa/mahasiswi Indonesia; suatu lokasi yang nyaman untuk ‘kongko-kongko’ para sarjana muda Indonesia yang belajar di Leiden, Den Haag dll tempat di Belanda. Di situlah mereka berdialog dengan pelbagai lapisan masyarakat Indonesia di Belanda. Di situlah mereka asyik tapi dengan serius bertukar fikiran mengenai Indonesia masa kini dan hari depannya.

* * *

Kali ini alamat yang kutuju adalah Lokhorstkerk, Pieterstraat 1, Leiden.  Aku janji bertemu di Leiden Centraal dengan Sarmaji, pendiri dan penanggungjawab ‘Yayasan Dokumentasi Indonesia Amsterdam’. Kami bersama menuju Lokhorstkerk, untuk dengan bangga menyampaikan ucapan selamat kepada Sri Margana, putra Klaten, Jawa Tengah, yang telah berhasil meraih gelar PhD-nya di Universitas Leiden.

Kapan perpsis waktunya bertemu di stasiun Leiden Centraal kami atur betul. Kemudian dari Centraal Station Leiden, dengan kendaraan apa sampai ke alamat yang dituju, harus dipas betul. Soalnya, kalau terlambat, beberapa menit sajapun, maka, meski ada undangan resmi di tangan, tetap saja sang penjaga pintu tidak membolehkan siapapun masuk ruangan pertemuan. Karena begitulah tata-tertib yang diatur panitya, pertemuan dan jalannya sidang di mana Sri Margono mempertahankan tesisnya, tak boleh terganggu oleh tamu yang disebabkan oleh satu dan lain hal, dengan tidak disengaja datang tidak tepat pada waktunya. Jelas, —- Sarmaji dan aku tidak mau terlambat menghadiri ‘wisuda’- nya sejarawan generasi muda Indonesia,  sahabatku, — SRI MARGANA. Sri Margana meraih PhD-nya pada Universitas  Leiden, dengan mempertahankan tesisnya berjudul — ‘JAVA’S LAST FRONTIER: The Struggle for Hegemony of Blambangan, c 1763 – 1813.’

Tulisan ini kubuat pertama karena gembira dan bangga tambah satu lagi postgraduate Indonesia yang berhasil dengan studinaa di Leiden. Juga, ini penting sekali, memang ada hal-hal yang (bagiku) baru dalam studi dan pemahaman sejarah yang dilakukan oleh Sri Margana. Maka itu pula tulisan ini akan bersambung dengan bagian ke-2.

* * *

Selama kurang-lebih 5 tahun Sri Margana menekuni studinya di Leiden. Bersama keluarganya mereka tinggal di alamat terkenal bagi mahasiswa-mahasiswi Indonesia, ‘Condorhorst 140’, Leiden. Di situlah untuk bertahun-tahun lamanya banyak akademisi-akademisi muda Indonesia yang melanjutkan studi di Leiden, berdomisili. Suatu tempat sederhana tapi bagus dan murah. Prof Dr J.L. Blussé Van Oud Alblas, promotor Sri Margana, memberikan nama khusus pada iluwan muda yang berdomisili di lokasi itu, ‘THE CONDORHORST 140 MAFIA’, Leiden. Seperti digambarkan oleh Sri Margana, yang dimaksudkan dengan ‘The Condorhorst 140 Mafia’, adalah ‘burung-burung’ generasi baru akademisi-akademisi Indonesia abad ke 21, yang dating terbang menjelajah cari makan, dan mengepak-ngepakkkan sayap-sayap intelektualnya, sebelum akhirnya terbang kembali pulang untuk meletakkan telur-telur kebangkitan kembali budaya Indonesia.

Kukatakan kepada Margana, bisakah dikatakan bahwa yang dimaksudkan, bahwa ‘CONDORHORST 140 MAFIA’ itu, kira-kira adalah semacam ‘pola-tandingnya’ ‘Berkely Mafia’ (kelompok sarjana Indonesia yang belajar di Berkely, AS). Mereka-mereka yang studi di AS itu, ‘The Berkeley Mafia’ , adalah yang kemudian (selama periode Orba) mengintrodusir ekonomi neo-liberal ke negeri kita, menggantungkan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi pada luarnegri, teristimewa Amerika dan Jepang, mentrapkan dan membelanya mati-matian.

Pengertianku ialah bahwa, yang dimaksudkannya ‘The Condorhorst 140 Mafia’ ini adalah suatu kelompok akademisi Indonesia yang bermisi menggalakkan pencerahan pada kehidupan, pendidikan, pengajaran dan penulisan sejarah Indonesia. Mereka mewakili dan membawa suatu pandangan sejarah baru yang PROGRESIF.

* * *

Kepada Margana kutanyakan, apa latar belakang ia mengambil tema BLAMBANGAN’, ketika memulai studinya untuk PhD. Jawabnya sederhana sekali, tetapi penting dan jelas! Sebabnya, jawab Margana, karena selama ini dalam (penulisan) sejarah Indonesia, ‘BLAMBANGAN’ itu ‘NEGLECTED’! Tak terpedulikan! ! Padahal peranan Kerajaan Blambangan dalam menentang segala macam dominasi, dan ‘kolonialisme’, <tidak saja kolonialisme Barat>, tetapi juga politik dan praktek dominasi dan agresi yang yang dilakukan oleh kerajaan Islam Mataram, adalah penting dan krusial dalam sejarah Indonesia. Halmana tidak pernah diungkap dan dilakukan studi secara serius dan ilmiah. Bila dibaca keterangan Wikipedia mengenai Kerajaan Blambangan, inilah penjelasannya:

‘Kerajaan Blambangan adalah kerajaan yang berpusat di kawasan Blambangan, sebelah selatan Banyuwangi. Raja yang terakhir menduduki singgasana adalah Prabu Minakjinggo. Kerajaan ini telah ada pada akhir era Majapahit. Blambangan dianggap sebagai kerajaan bercorak Hindu terakhir di Jawa. Sebelum menjadi kerajaan berdaulat, Blambangan termasuk wilayah Kerajaan Bali. Usaha penaklukan kerajaan Mataram Islam terhadap Blambangan tidak berhasil. Inilah yang menyebabkan mengapa kawasan Blambangan (dan Banyuwangi pada umumnya) tidak pernah masuk pada budaya Jawa Tengahan, sehingga kawasan tersebut hingga kini memiliki ragam bahasa yang cukup berbeda dengan bahasa Jawa baku. Pengaruh Bali juga tampak pada berbagai bentuk kesenian tari yang berasal dari wilayahBlambangan’.

Demikian Wikipedia. Keterangan Wikipedia ini dengan sendirinya harus diteliti dan dipelajari lagi.

* * *
Dalam INTRODUCTION tesisnya, Sri Margana menjelaskan sbb:

‘The theme of this study is to present an analysis of how the Dutch tried to transform /Java’s Oosthoek /(Java Eastern Salient, Javanese: /Bang Wetan/) from a wilderness harbouring rebels, the rougher elements of society, and stubborn dissenters opposed to any foreign rule into a frontier of economic progress and colonial state-formation by the beginning of the nineteenth century. Such a process of transformation would have been impossible unless it was accompanied by political as well as social and cultural change.

‘Unquestionably, the ever-increasing involvement of the VOC (/Verenigde Oost-Indische Compagnie/) in the internal political affairs of Java played a crucial role in transforming the /Oosthoek/, but the fact that endogenous factors also provided an impetus to the changes should not be overlooked. A careful scrutiny of both Dutch and Javanese sources is essential in any balanced attempt to reconstruct a detailed and intriguing account of what was happening in /Java’s Oosthoek /just as it was poised on the brink of becoming integrated into the Colonial State.’ <Kutipan selesai>

* * *

Dalam bincang-bincang dengan aku, Margana menyatakan bahwa Blambangan yang sangat menentang dominasi asing itu, hanya bisa dikalahkan oleh VOC, disebabkan VOC yang melakukan politik ‘devida et impera’ itu berhasil merangkul kerajaan Islam Mataram untuk bersama-sama menaklukkan kerjaan Blambangan. Adapun alasan kerajaan Mataram mau berkolaborasi dengan VOC untuk mengalahkan Blambangan, ialah tujuan Mataram untuk meng-Islamkan Blambangan yang bergama Hindu itu. Sungguh, aku yang suka sejarah, dan pernah mengajar sejarah di Peguruan KRIS, Jakarta, pada permulaan tahun limapuluhan, tidak pernah mendengar tambo mengenai VOC, Mataram dan Blambangan, serta saling hubungannya, seperti yang kudengar sendiri sekarang ini dari sejarawan muda Sri Margana.

* * *

Mari ikut Stelling atau Dalil-dalil Sri Margana yang dikemukakannya pada hari itu: (Kutip)

(O1) In many respects, JAVA’S OOSTHOEK in the second half of the 18th century may be called Java’s last frontier (see this thesis).

(02) The decision taken by the VOC to invade Blambangan in the second half of the 18th century was closely related to provocation by the British merchants who were trying to establish a new trading-post in this region.

(03) The key to the success of the VOC in maintaining its hegemony in Java was determined by its skill in fostering good relationship with the local rulers, especially after the Javanese Succession War which ended in 1757.

(04) The preaching of Islam in Java played a central role in the Dutch excpansion strategy in Blambangan in 1767-1774. In a utshell: thanks to the Dutch intervention the great mission of Sultan Agung to create the world of Islam in Java was accomplished.

(05) The intervention of the VOC in Blambangan also fanned inter-ethnic violence and actually strengthened ethnic and regional sentiments, proving that one should keep an eye on the dynamics of indigenous developments (see Gagalnya Historiografi Indonesiasentris, Bambang Purwanto)

(06) The second opposition to the Company in Blambangan was nor a direct response to oppression and economic exploitation as the orthodox opinion has it, but a heart-felt sentiment of the local population against the unwanted intrusion of new ‘foreign’ (Javanese and Islam) elements.

(07) The extension of the Company’s influence in East Java gradually but surely put the existing autonomous trade networks in a straightjacket, reshaping their orientation and output.

(08) A characteristic feature of the Wong Osing among other Javanese ethnic groups is their inclination to be autonomous and free of foreign intervention.

(09) The credibility of the /babad / as a historical source is not situated in the accuracy of its narrative account but its cultural function within the society that produced it.

(10) Field work on Java is an appropriate and challenging learning process for the historian who examines the continuity and discontinuity of Javanese culture. Situated between the Indian Ocean and the South China Sea, the island has experienced a mixed  legacy of foreign religions (Hindu, Islam and Christian) and South Asian, East Asian, Middle Eastern and European influences. Seeing is discerning, listening is understanding.

(11) The autonomous viewpoints of Indonesian historical writing are often undermining the credibility of the Dutch sources and their so-called intrinsic value and objectivity.

(12) The /CONDOHORST 140 MAFIA /is the new generation of the 21st century Indonesian academic ‘birds’ who flew over to forage and stretch their intellectual wings before returning home to lay eggs of cultural revival. (Kutipan selesai – I.I.)

(Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s