Diskusi Ke-Indonesia-an

Dalam rangka memperingati HUT RI ke-62, akan diadakan diskusi ke-Indonesia-an dengan tema “Demokrasi dan Identitas Nasional” tanggal 16 Agustus 2007 di LAK Theater, Universitas Leiden.

Dialog KeIndonesiaan

Memperingatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI Ke-62

Tema
Demokrasi dan Identitas Nasional

Pengantar
Dalam rangka memperingati hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-62, Yayasan Sapu Lidi dan PPI Leiden akan menyelenggarakan Dialog Keindonesiaan, dengan mengambil tema ‘Demokrasi dan Identitas Nasional’. Dialog ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pemikiran tentang pembangunan demokrasi dan politik di Indonesia.
Dasar Pemikiran
Setiap bangsa yang berdaulat selalu ingin menunjukkan identitas nasionalnya. Di samping untuk menunjukkan eksistensinya di tengah-tengah warga dunia, Identitas Nasional dirumuskan untuk menampilkan watak, karakteristik kebudayaan dan memperkuat rasa kebangsaan. Identitas nasional mencakup perilaku kebudayaan secara menyeluruh, baik perilaku politik penyelenggaraan negara yang bersih dan demokratis; perilaku ekonomi dalam mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran, perilaku hukum dalam menyelengarakan keamanan dan ketertiban, perilaku sosial dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, dan perilaku budaya dalam mewujudkan toleransi dalam masyarakat yang multi-kultural. Dengan kalimat yang singkat, Indonesia hendak mewujudkan sebuah masyarakat yang demokratis sebagai bentuk identitas nasional.

Para pendiri Negara Indonesia telah membuat kesepakatan nasional untuk memilih Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar untuk mewujudkan identitas nasional itu. Namun ada kecenderungan dalam perjalan sejarahnya, terutama sejak proklamasi kemerdekaan hingga saat ini, bangsa Indonesia semakin menampilkan sebuah watak dan perilaku kebudayaan yang semakin jauh dari ideologi nasional yang telah disepakati itu. Masalah perbedaan ideologi, agama dan etnis yang telah muncul sejak awal revolusi kemerdekaan belum pernah benar-benar diperoleh penyelesaiannya dengan tuntas.

Permasalahan identitas nasional kembali dipertanyakan dalam proses transisi demokrasi setelah berakhirnya rejim Orde Baru. Sebagai sebuah instrumen untuk mengerakan mesin – mesin politik dalam rangka mengalang kekuasaan, identitas nasional kembali terlihat kabur. Prilaku budaya, politik, hukum, ekonomi, dan sosial semakin di didominasi oleh semangat kekuasaan jangka pendek dan kepentingan kelompok kecil. Upaya penyelesaian konflik, sebagian besar, berakhir dengan kekerasan. Bahkan, konflik kekerasan dengan latar belakang primodialisme semakin menjamur terutama setelah euphoria desentralisasi dilegitimasi oleh sebuah UU Otonomi daerah. Di mata dunia, identitas Indonesia sebagai negara yang korup, pelanggar hak asasi manusia, dan mengedepankan kekerasan sebagai solusi konflik semakin menguat.

Dialog Keindonesiaan ini dimaksudkan untuk belajar dari beberapa kasus sebagai refleksi awal untuk membahas lebih jauh masalah Identitas Nasional itu. Walaupun mungkin kasus-kasus yang dipilih tidak dapat sepenuhnya mewakili pembahasan mengenai permasalahan Identitas Nasional bangsa Indonesia.

Persoalan identitas perpolitikan nasional telah berakar sejak masa revolusi nasional dan awal kemerdekaan. Kasus pertama akan membahas tokoh yang sangat kontroversial dalam sejarah Indonesia, yaitu Tan Malaka. Seorang tokoh yang pernah dijuluki oleh Soekarno sebagai Bapak Indonesia, yang akhirnya mati dibunuh oleh anak-anak revolusi. Rupanya watak revolusi Indonesia yang diwarnai oleh pertarungan ideologi itu telah memakan anak-anaknya sendiri. Dalam perjalanan sejarah Indonesia nampaknya kejadian-kejadian serupa masih terulang, pergantian-pergantian rejim di Indonesia telah memakan begitu banyak korban dari bangsa sendiri. Harry Poeze, seorang sejarawan yang telah bertahun-tahun melacak perjalan hidup tokoh Tan Malaka akan membeberkan padangannya tentang tokoh Tan Malaka dan posisinya dalam sejarah revolusi Indonesia.

Kasus kedua yang akan didiskusikan dalam Dialog Keindonesiaan ini adalah masalah dinamika politik lokal setelah digulirkannya kebijakan desentralisasi politik dan pemerintahan oleh rejim-rejim baru di era reformasi. Sosiolog dari Universitas Indonesia, Tamrin Amal Tomagola akan membahas tentang Pilkada DKI Jakarta, yang baru saja bergulir. Isu-isu yang mungkin menarik didiskusikan barangkali adalah tentang politik uang atau pemerasan terhadap para calon oleh partai politik, masalah calon independent, dan refleksi ke depan dari dinamika politik lokal ini dalam masa transisi menuju demokrasi di Indonesia. Dari kasus pikada DKI ini, karakteristik politik yang bagaimana yang terbangun, dan apakah pola-pola serupa juga didapati di wilayah lain di Indonesia. Berkaitan dengan pembentukan identitas nasional, apakah watak atau ciri-ciri politik lokal seperti itu yang diidealkan sebagai identitas politik nasional.

Kasus ketiga adalah masalah ‘Etnisitas dan Keagaman di Indonesia’, dengan mengambil kasus di propinsi paling timur Indonesia, Papua. Masyarakat Indonesia yang plural; terdiri dari berbagai suku, bahasa, agama dan kebudayaan, memiliki potensi yang besar kearah perpecahan yang dipicu oleh sektarianisme dan primordialisme. Konflik etnis dan agama seperti yang terjadi di Maluku, Poso, dan Kalimantan barangkali contoh nyata dari rawannnya masalah ini dalam politik di Indonesia. Bagaimana perkembangan masalah serupa di Papua? Dari wilayah ini persoalan yang paling mengemuka adalah isu separatisme. Apakah dalam kemasan separtisme itu masalah enisitas dan keagamaan juga menadi unsure di dalamnya? Kandidat Doktor dari Universitas Leiden dan Peneliti muda dari LIPI, Muridan Satrio Widjojo akan mengantar diskusi untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimanakah isu etnisitas dan keagamaan di papua ini mewarnai politik di tingkat local dan Nasional?

Kegiatan
Dialog keIndonesiaan akan diselenggerakan pada :
Hari/Tanggal : Kamis, 16 Agustus 2007
Pukul : 10.00 s.d 15.00
Tempat : Lak Theater, Fakultas Sastra
Universitas Leiden
Cleveringaplaats 1 Ruang 003
2311 BD LEIDEN

Sesi I : Demokrasi dan Pertarungan Ideologi : Tan Malaka dan Watak Revolusi
Indonesia
Narasumber : Harry Poeze
Fasilitator : Sri Margana

Sesi II : Demokrasi, Politik Lokal, Etnisitas dan Agama
Narasumber : Tamrin Tomagola dan Muridan S. Widjojo
Fasilitator : Siswo Pramono

Jadwal Acara
Kamis, 16 Agustus 2007

10.00 – 10.45
Registrasi dan Pemutaran Film Dokumenter

10.45 – 11.00
Pembukaan
Sambutan dari Ketua Panitia

11.00 – 12.00
Diskusi Sesi I : “Demokrasi dan Pertarungan Ideologi : Tan Malaka dan Watak Revolusi Indonesia”
Narasumber : Harry Poeze
Fasilitator : Sri Margana

12.00 – 13.00
Makan Siang

13.00 – 15.00
Diskusi Sesi II : “Demokrasi, Politik Lokal, Etnisitas dan Agama : Kasus Pilkada DKI Jakarta 2007 dan Papua”
Narasumber :
– Tamrin Amal Tomagola,
– Muridan S. Widjojo
Fasilitator : Siswo Pramono
Location: LAK Theatre, Leiden University
Contact: Icha shiskha_p@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s