(Tita Alissa Listyowardojo) – Apa sih PPI Leiden itu? Ini adalah frequently asked question buat setiap orang yang baru datang ke Leiden. PPI itu sendiri singkatan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia. Leiden ditambahkan di belakangnya untuk membedakan dengan PPI di kota-kota lain. Seperti organisasi-organisasi lainnya, PPI Leiden juga punya sejarah mulai dari pertama kali terbentuk, hingga existensinya hari ini. Diharapkan dengan diceritakannya sejarah terbentuknya PPI Leiden ini secara narasi menjawab pertanyaan di atas, dengan cukup memuaskan. READ more makanya…..
Setelah meminta informasi dari para pendiri pertama PPI Leiden, kira-kira beginilah sejarahnya (Info berikut ini didapatkan dari Christiana Chelsea, salah satu “caretakers” PPI Leiden periode Januari 2004-Agustus 2004; digabungkan dengan informasi dari Muhammad Iqbal, ketua PPI Leiden periode 2005-2006).
Chelsea memulai narasi ceritanya di pertengahan September 2002 di jalan Hooigracht 15 Leiden, sebuah student house untuk international students. Chelsea bercerita bahwa di dinding papan pengumuman saat itu ditempel satu pengumuman yang kurang lebih isinya undangan kepada semua teman-teman mahasiswa Indonesia yang sedang berada di Leiden untuk datang berkumpul dengan agenda acara selamatan dan syukuran untuk selesainya masa studi ketua PPI Leiden pada periode itu (Sayang Chelsea lupa namanya tapi menyebut Tonang sebagai salah satu kemungkinan). Undangan itu juga diperuntukkan sebagai ajang perkenalan bagi teman-teman yang baru tiba.
Tetapi karena sebagian besar students Indonesia yang saat itu baru datang tidak kenal yang mengudang, dan masih bergumul dengan masa-masa adaptasi, mereka tidak datang. Dan lewatlah masa perkenalan PPI Leiden itu.
Sekalipun demikian, perkenalan antar individu terus berlangsung. Antara lain untuk mereka yang saat itu tinggal bersama di beberapa International student houses seperti di Hooigracht, Kaarsenmarktstraat, Stationsplein, Mauritstraat, dan seterusnya. Perkenalan antar individu ini terus berlangsung tidak terkecuali untuk mereka yang saat itu mengenyam pendidikan dari s2, s3, dan beberapa peneliti muda serta dosen beserta keluarganya.
Puncak dari perkenalan ‘tanpa wadah’ ini bertolak di pertemuan akbar perayaan Lebaran bersama di bulan November 2003. Chelsea menggambarkan pertemuan itu sebagai awal mula kebersamaan yang sangat menyenangkan dan kekeluargaan. Disitu terkumpul sekitar 60 mahasiswa Indonesia, dan sangat disayangkan tidak diabadikan dengan daftar hadir.
Di bulan Januari 2004, beberapa mahasiswa Indonesia: Faried Saenong dan mas Mujib dari program Islamic studies berjumpa dengan Pak Atase pendidikan kita di Belanda, Muhajir, pada sebuah kesempatan jumpa Atase Pendidikan. Acara perkenalanan dengan Bapak Muhajir ini menghasilkan sebuah gagasan untuk membentuk kembali PPI-PPI di seluruh Belanda. Atau bila meminjam istilah Iqbal, diaktifkannya kembali PPI-PPI ini (baca juga kotak: PPI Leiden adalah paguyuban). Gagasan ini disambut dengan sangat hangat dengan langsung terbentuknya beberapa struktur di kota-kota seperti Wageningen, Maastricht, Enschede, dan kota-kota lain yang segera menyusul.
Bagaimana dengan kota Leiden? Di akhir Januari 2004, di saat anggota komuniti Indonesia di Leiden sedang merayakan tahun baruan bareng (yang disebut Chelsea sebagai sangat terlambat), Mas Faried dan Mas Mujib membagikan cerita mengenai pembentukan kembali PPI-PPI di Belanda, dan membicarakan implementasi mengenai pembentukan (kembali) PPI Leiden.
Pertemuan ini dihadiri oleh kurang lebih 40 orang. Di pertemuan ini, para mahasiswa yang sudah lebih lama tinggal di Leiden (seperti Bang Faried, Bang Jajat, Bang Anwar, Bang Arief, dll – dari Chelsea) membagikan pengalaman mereka berorganisasi dalam PPI yang terpaksa harus vakum sejak kepulangan ketua terakhir.
Pertemuan ini tidak berlangsung sangat lancar karena munculnya kecurigaan-kecurigaan seperti isu keagamaan, kekuatiran persiapan Pemilu 2004 akan menunggangi pembentukan PPI Leiden, dan kecurigaan bahwa ide ini hanya ‘program’ karena si Adikbud baru saja menjabat posisinya. Walaupun demikian, sangat disadari oleh yang hadir bahwa teman-teman yang baru datang ke Belanda, sangat membutuhkan banyak informasi: dari sekedar sharing pengalaman merantau ke negeri orang, hingga masalah beli makanan halal, masalah dengan studi, tempat tinggal, bank account, rice cooker, sepeda, dan yang lainnya. Membentuk sebuah PPI Leiden, akan menjadi satu wadah konkrit dimana teman-teman bisa saling membantu untuk kebutuhan-kebutuhan yang terdengar seperti sepele ini, tapi vital. Kesadaran inilah yang terutama sekali melatarbelakangi terbentuknya respon konkrit untuk membentuk PPI Leiden saat itu juga.
Kesederhanaan latar belakang terbentuknya PPI Leiden saat itu juga menjadi alasan utama tidak adanya AD/ART. Chelsea menceritakan bahwa yang hadir secara internal menyebutnya dengan ‘Caretaker Leiden’, tapi secara external (misalnya keluar Leiden) menyebut diri dengan PPI Leiden.
Hasil pertemuan itu adalah: Bung Faried Saenong, Christiana Chelsia, dan Mas Mujib sebagai Caretakers Leiden. Tugas-tugas mereka adalah menjadi coordinator bagi seluruh mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang terkelompokkan dalam berbagai international student houses (Hooigracht, Kaarsenmarktstraat, Stationsplein, Mauritstraat, dll) serta mulai juga mengkonsolidasikan diri dengan PPI di kota-kota lain.
Secara lebih detail, tugas internal mereka saat itu adalah penyalur informasi seperti yang telah disebutkan di atas (mengenalkan tempat belanja makanan, toko Indonesia, tempat secondhand, cara beli sepeda, masalah asuransi, bank, tempat tinggal, dll), juga mengkoordinasikan acara masak-masak bersama (yang terus menjadi kekhasan penduduk Leiden hingga hari ini), sampai acara jalan-jalan bersama, dan acara jemput-menjemput teman-teman yang datang di bulan Agustus 2004.
Chelsea secara pribadi menggambarkan keberadaan PPI Leiden itu sebagai cairan, sesuatu yang tidak ada wadah pastinya, tapi bisa dirasakan kesejukannya.
Chelsea menyebutkan beberapa kegiatan external (kegiatan diluar Leiden) seperti beberapa acara diskusi dan pembentukan PPI se-Belanda yang masih banyak kekurangan di sana sini. Juga seperti PPI Leiden yang tidak punya AD/ART. Tetapi Chelsea kembali mengingatkan pemahaman bahwa bagi PPI Leiden saat itu yang terpenting adalah spirit kebersamaan dan saling dukung, juga spirit menurunkan barang-barang warisan, dan bukan kesempurnaan badan organisasinya saja.
Masa ‘kepemimpinan’ Faried, Chelsea, dan Mujib berakhir di bulan Agustus 2004 dan diteruskan oleh Hellena, Johanna, dan Iqbal periode 2004-2005 (masalah sejarah kepengurusan liat di bagian khusus itu yaa…).
PPI Leiden adalah Paguyuban
(berdasarkan perspektif dari Muhammad Iqbal)
Bentuk organisasi. Ini adalah pertanyaan yang sempat hinggap dalam benakku. Aku juga sempat tanyakan ke Chelsia dulu dan dapat sedikit penjelasan. Dikisahkan bahwa Atdiknas (Bapak Muhajir) dulu menganjurkan agar di tiap kota dibentuk wadah pelajar yang akhirnya akan berhimpun jadi PPI Belanda. Lalu dibentuklah PPI Leiden. Waktu itu bukan dibentuk tapi diaktifkan kembali karena konon kabarnya dulu juga pernah ada PPI Leiden.
Seiring dengan jalannya waktu dan pasang surut hubungan Indonesia belanda maka pernah ada masa-masa di mana jumlah mahasiswa Indonesia yang bersekolah di Belanda sangat sedikit. Terutama setelah kejadian pembubaran IGGI (International Govermental Group for Indonesia ) awal tahun 1990 an. Pada saat-saat tersebut PPI Leiden menjadi hilang dari peredaran dengan sendirinya.
Kemudian pada tahun 2001 mahasiswa Indonesia mulai berdatangan lagi ke Belanda. Salah satunya adalah karena keberhasilan Presiden waktu itu (Gus Dur) mencairkan hubungan kedua negara dan adanya komitmen Belanda untuk membantu pembangunan SDM Indonesia.
Mungkin didasari oleh banyaknya mahasiswa Indonesia di sini maka Atdiknas merasa perlu untuk mendorong dibentuknya organisasi pelajar. Seperti yang sering saya dengar dari atdiknas, “Kalian ini kan duta-duta Bangsa Indonesia .” Kemudian di tahun 2003 mulai diaktifkan yang namanya PPI Leiden bersamaan dengan dibentuknya PPI Belanda yang notabenenya nggak punya masa tapi bisa mengklaim massa dari tiap PPI Kota.
Ketika itu PPI Leiden dibentuk tujuannya terutama untuk kumpul-kumpul antara mahasiswa Indonesia. Yang jelas kalau ada wadahnya akan lebih mudah untuk digerakkan dan disinergikan. Hal ini saya pernah tanyakan ke Chelsia karena waktu itu saya heran mengapa di PPI Leiden tak ada yang namanya AD/ART seperti organisasi normal. Itulah maka saya beranggapan dan lebih merasakan bahwa PPI Leiden adalah paguyuban. Definisi paguyuban (kalau nggak salah dari Kuntowijoyo) adalah kumpulan orang yang bersepakat untuk berkelompok karena adanya perasaan senasib dan adanya kesamaan latar belakang. Waktu itu pula atas Lobi PPI Leiden yang sifatnya paguyuban, maka dalam AD/ART PPI Belanda tidak disebutkan bahwa PPI kota yang tergabung dalam PPI Belanda harus punya AD/ART (Chelsia 2005, pers comm.).
“PPI leiden adalah keluargaku di Belanda, dimana aku bisa tertawa lepas dan menangis bersama.
Literally sebuah tempat dimana aku akan selalu kembali pulang,
untuk menikmati segala kehangatannya.”
(Shiskha Prabawaningtyas – 2005)
