Kegiatan Lapor Diri dan Sosialisasi Pemilu 2014

Oleh: Wildan Sena Utama*

Pada Jumat, 14 Februari 2014 bertempat di Gedung Lipsius, 227, Universitas Leiden, diadakan acara pelaporan diri dan sosialisasi Pemilu 2014 bagi mahasiswa dan warga negara Indonesia (WNI) yang sedang bermukim di Leiden. Acara ini dihadiri oleh pejabat dan staf dari KBRI Den Haag dan mahasiswa dengan total kehadiran mencapai 40 orang.

Dalam sambutannya, Bambang Hari Wibisono sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Den Haag menyampaikan bahwa “Lapor Diri” sebagai istilah resmi yang tercantum dalam undang-undang adalah registrasi yang diperuntukkan terutama bagi mahasiswa yang baru datang agar tercatat secara resmi dalam data KBRI.

Lapor diri menjadi penting karena apabila WNI di luar negeri mengalami kejadian yang tidak dikehendaki dan membutuhkan bantuan pihak KBRI, maka dengan telah melakukan lapor diri pihak KBRI akan dengan mudah mendeteksi dan membantu WNI tersebut berdasarkan data yang telah dilaporkan. Ini akan memudahkan proses selanjutnya dalam hal pengurusan lebih lanjut.

Setelah diadakan sosialisasi ihwal lapor diri, acara dilanjutkan dengan sosialisasi Pemilu 2014. Bagi mahasiswa dan WNI yang sedang berada di luar negeri, menggunakan hak pilih tetap merupakan sebuah hak, karena hal ini berkaitan dengan masa depan bangsa dan negara. Saat ini WNI yang bermukim di Leiden berjumlah sekitar ratusan dan jumlah ini bukan suara yang sedikit untuk sebuah kota di luar negeri.

Di akhir acara yang berlangsung selama lebih-kurang dua jam ini diadakan sesi tanya jawab dan konsultasi bagi mahasiswa Leiden mengenai kendala atau masukan-masukan yang  bisa didiskusikan oleh pihak KBRI. Beberapa mahasiswa menanyakan hal pengurusan paspor di KBRI dan beasiswa.

* Mahasiswa Program Encompass 2013-2014, Universitas Leiden

1 Komentar

Tradisi Gintingan di Kabupaten Subang: Peran Institusi Lokal dalam Pembangunan Masyarakat

 Pembicara/Narasumber: Kurniawan Saefullah*

Notulis dan Penulis Artikel: Wildan Sena Utama**

Empat tahun yang lalu Universitas Leiden, Belanda dan Universitas Padjajaran mengadakan kerjasama dalam riset pembiayaan mikro (microfinance) untuk mengkaji tentang kemiskinan. Salah satu yang terlibat dalam penelitian ini ialah Kurniawan Saefullah, salah seorang dosen di Fakultas Ekonomi, Universitas Padjajaran. Dia melakukan riset untuk disertasinya tentang tradisi gintingan dalam pembangunan masyarakat Subang.

Dalam acara diskusi bulanan PPI Leiden pada 28 Oktober 2013, di Lipsius, Universitas Leiden, Kang Kur, biasa dia disapa, menjelaskan tentang risetnya tersebut. Berikut adalah reportase mengenai diskusi yang diangkat dari disertasi Kang Kur.

Pembahasan tentang kemiskinan dalam diskursus pembangunan merupakan salah satu kajian yang tidak pernah habis. Sebab kemiskinan masih terus hadir dan menjadi problem di berbagai negara.

Dalam ilmu ekonomi, pembiayaan mikro merupakan salah satu tool pengentasan kemiskinan. Pembiayaan mikro adalah instrumen atau institusi yang establish, diadakan untuk mengubah masyarakat dari inable menjadi able. Bentuk pembiayaan mikro ada dua: banking institution dan nonbanking institution.

Dalam masyarakat, indikator well being tidak hanya dinilai dari aspek material, income oriented. Tetapi juga perlu diukur dari aspek sosial dan aspek kemanusiaan. Aspek sosial maksudnya adalah manusia tidak hanya sekedar memperoleh income dan dia berhasil memenuhi kebutuhannya, namun, manusia juga membutuhkan aspek sosial seperti, mempunyai hubungan yang baik dengan keluarganya atau dengan tetangganya.

Selain itu dalam konsep pembangunan ada yang dinamakan konsep pembangunan dari dalam, endogenous development. Pada konsep ini, ukuran-ukuran kebahagiaan menjadi lebih tergantung dari dalam masyarakat terse but. Apa yang menjadi kebahagiaan dalam masyarakat urban berbeda dengan masyarakat di pedesaan.

Dalam endogenous development, program-program improvement harus mendengarkan apa yang ada di dalam masyarakat itu. Kita harus tahu ukuran-ukuran kebahagiaan menurut mereka, bagaimana mereka melakukan cara untuk merealisasikan dan mencapai kebahagiaan itu. Konsep pembangunan dari dalam ternyata merupakan sesuatu yang masih ada dan dijalankan oleh beberapa komunitas masyarakat di Indonesia. Salah satunya adalah tradisi gintingan yang diangkat dalam disertasi Kang Kur ini.

Gintingan adalah tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat Subang. Berupa mekanisme gotong royong yang dilakukan masyarakat Subang untuk menolong sesama dalam masyarakat itu. Gintingan berasal dari kata gantang. “Gantang itu semacam baskom tempat untuk mengukur satuan beras,” ujar Kang Kur.

Sehari-harinya mekanisme gintingan berlangsung ketika dalam masyarakat ada seseorang yang sedang mempunyai hajat/kebutuhan yang penting maka ada tolong-menolong untuk membantu seseorang dalam masyarakat tersebut. Agar hajatannya itu bisa berlangsung lancar.

Inisiatif masyarakat dalam melakukan gintingan muncul dari masa kolonial. Gintingan muncul dari inisiatif masyarakat untuk membantu tetangganya ketika mereka mempunyai kebutuhan yang mendesak. Misalnya ketika seseorang membutuhkan dana 30 juta untuk menyelenggarakan hajatan, maka seseorang itu akan memberitahukan tokoh masyarakat/informal. Setelah itu tokoh masyarakat akan memberitahu kepada masyarakat sekitar. Lalu akan diadakan rapat di rumah si penyelenggara yang membutuhkan dana itu.

Dibuatlah sebuah panitia yang terkait dengan hajatan itu. Kemudian akan disebar gantangan kepada masyarakat di daerah itu tergantung dari besarnya rumah. Nanti ada panitia yang mencatat sumbangan dari setiap orang yang menyumbang. Besaran kontribusi itu nantinya akan menjadi “hutang” bagi si penyelanggara hajatan. Menariknya, undangan untuk meminta gantangan itu dilampiri dengan sabun colek.

Gintingan saat ini tidak hanya berupa beras, tapi bisa berupa uang dan emas. Bahkan dalam masyarakat Desa Cimanglid, mereka melakukan tradisi gintingan untuk membangun rumah. Misalnya, seseorang tidak mempunyai rumah, maka tokoh informal masyarakat tersebut akan menanyakan kapan ingin membangun rumah, maka tokoh masyarakat itu akan mencarikan tanah untuk dibangun rumah. Kemudian masyarakat akan membantu komponen-komponen bangunan, misalnya seseorang menyumbang batako. Dan misalkan ada seseorang yang tidak bisa membantu komponen bangunan maka dia akan membantu tenaga secara sukarela dalam pembangunan rumah itu.

Secara komparatif, Kang Kur menambahkan, tradisi gintingan juga dijalankan oleh komunitas masyarakat dari berbagai belahan dunia namun dengan nama yang berbeda. Dia mengatakan bahwa tradisi gintingan juga terdapat di Brunei, Filipina, dan Thailand.

* Mahasiswa doktoral di Universitas Leiden

** Mahasiswa Program Encompass 2013-2014, Universitas Leiden

2 Komentar

Pengurus PPI Leiden 2013-2014

Jajang Nurjaman_Ketua Ketua:
Jajang Nurjaman
Ravando_Presidium Presidium:
Ravando
Anggia Rukmasari_Wakil Wakil Ketua:
Anggia Rukmasari
Hanni Smaragdina_Sekretaris

Ni Made Citrayanthi_Bendahara

Ghamal Satya_Humas

M Bagus_Acara

Sekretaris:
Hanni Smaragdina

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bendahara:

Ni Made Citrayanthi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Humas: Ghamal Satya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Acara: M Bagus

Tinggalkan komentar

Home Far Away Home: Informasi praktis bagi para pencari “rumah” di Leiden

(Maria Ingrid NB) – Sulitnya mencari tempat tinggal adalah salah satu persoalan umum yang paling sering dialami tidak hanya oleh mahasiswa Indonesia tetapi juga mahasiswa internasional lain pada umumnya yang datang ke Leiden. Setiap tahun, biasanya pada bulan Agustus/September, ketika tahun ajaran baru dimulai, baik mahasiswa baru maupun lama sibuk mencari tempat tinggal. Apabila beruntung cepat mendapat tempat tinggal yang nyaman, mereka bisa memulai studi mereka dengan tenang. Bagi yang tidak, mereka bisa sampai berminggu-minggu sampai berbulan-bulan mencari.

Tulisan sederhana ini saya buat berdasarkan pengalaman saya sendiri dan beberapa teman dalam mencari tempat tinggal di Leiden. Saya yang sudah pernah tinggal di Leiden selama kurang lebih 1 tahun merasakan sendiri sulitnya mencari tempat tinggal, apalagi teman-teman yang baru (atau akan) datang ke Leiden untuk kuliah, program pertukaran, kunjungan singkat dan sebagainya.

Untuk itu saya ingin berbagi informasi tentang mencari tempat tinggal di Leiden dan semoga teman-teman lain yang punya pengalaman dan pengetahuan lebih banyak daripada saya tentang tempat tinggal dapat menambahkan informasi sehingga bermanfaat bagi teman-teman yang akan tinggal atau sedang mencari tempat  tinggal di Leiden.

 

Ke mana harus mencari informasi?

 

Setidaknya ada empat cara untuk mencari informasi tentang tempat tinggal bagi mahasiswa :

  1. 1.     Universitas

Bagi anda yang diterima/ terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Leiden, website universitas memiliki halaman khusus mengenai Student Housing: http://www.studenthousing.leiden.edu/student-housing/ dan http://www.studenthousing.leiden.edu/phd-post-doc/finding-housing/search-suggestions-in-leiden.html yang salah satunya akan menghubungkan mahasiswa ke: http://www.accommodate.nl/ atau ke : https://www.duwo.nl/

Pastikan anda membaca dengan jeli pilihan kamar/apartemen & lokasi yang ditawarkan, persyaratan, proses pembayaran, fasilitas, serta kondisi tempat tinggalnya: apakah itu single room atau studio room (sekamar berdua), dll.

Karena banyaknya jumlah mahasiswa baru setiap tahunnya, prosedur untuk mendaftar biasanya sangat awal. Ini sering menyulitkan bagi mahasiswa Indonesia karena urusan birokrasi & proses mendapatkan dokumen-dokumen memakan waktu lama sehingga ketika hendak mendaftar untuk student housing, semuanya sudah penuh atau sudah terlambat.

Bagi mahasiswa internasional yang sedang menjalani program pertukaran/ penelitian/ magang (yang hanya tinggal untuk jangka waktu pendek), terdapat alternatif untuk menyewa kamar mahasiswa Belanda yang sedang pergi ke luar negeri & menyewakan kamarnya. Informasi mengenai hal ini bisa didapat di: http://www.stichtingroofs.nl/roofs_en/  dan http://www.housinganywhere.com/ . Anda harus mendaftar dan membayar biaya registrasi melalui website tersebut untuk dapat mengakses informasi serta dihubungkan dengan mahasiswa yang akan menyewakan kamarnya.

  1. 2.     Agen 

Menggunakan jasa agen (makelaar) adalah salah satu alternatif mencari tempat tinggal. Ini bisa dilakukan apabila anda sudah berada di Leiden (karena kalau masih di Indonesia, tidak mungkin bisa membuat janji untuk melihat langsung tempatnya). Ada banyak sekali agen rumah yang tersedia di Leiden.

Pada umumnya prosesnya sama: anda harus registrasi (biasanya gratis) secara online atau datang langsung ke kantor agennya untuk dapat mengakses informasi tempat tinggal yang disewakan (hampir semua biasanya dipasang di website agen). Setelah anda mempunyai pilihan tempat yang ingin anda lihat (bisa lebih dari satu), anda bisa langsung mengontak agen dan mereka akan mengatur waktu dengan anda dan pemilik rumah agar anda bisa datang untuk melihat tempatnya.  Sesudah itu, staf dari agen tersebut akan menemani anda mendatangi tempat yang ingin anda sewa. Meski kebanyakan agen tidak memungut biaya untuk melihat tempat, ada juga agen yang tetap memungut biaya, jadi ketika memilih agen, anda harus memastikan prosedur/cara kerja agen tersebut terlebih dahulu. Apabila anda sudah menjatuhkan pilihan tempat yang ingin anda sewa, agen akan mengatur proses kontrak sewa dengan pemilik rumah.

Hal penting yang harus diketahui apabila hendak menggunakan jasa agen adalah ketika anda sudah mendapat tempat yang anda inginkan dan mengurus kontrak sewa, selain membayar sewa, anda harus membayar fee untuk agen (biasanya sebesar harga sewa 1 bulan dari tempat yang anda pilih), jadi anda harus menyiapkan anggaran lebih.

Berikut adalah link beberapa agen rumah:

Pararius: http://www.pararius.com/english/clientHome.php?lvl1=1&lvl2=1

Re/Max: http://www.remax.nl/welkom/

Living Today: http://www.livingtoday.nl/english

Expat Rentals: http://leiden.expatrentals.eu/index.aspx

Easy Rentals: http://www.easyrentals.nl/en

Direct Wonen: http://www.directwonen.nl/

Vijf Sterren: http://www.vijfsterrenleiden.nl/

Buro Hogeland: http://www.burohogeland.nl/

Kamer Raad: http://www.kamerraad.nl/

Op mijn kamer: http://www.opmijnkamer.nl/

Rooming: http://www.rooming.nl/

Tweel Wonen: http://www.tweelwonen.nl/en

De Verhuur Makelaar: http://www.deverhuurmakelaar.nl/eng/index.htm

  1. 3.     Media Sosial

Selain pilihan menggunakan jasa agen, terdapat beberapa website khusus (meski ada yang hanya menggunakan Bahasa Belanda) untuk mahasiswa/pekerja yang memberikan informasi tentang tempat yang disewakan seperti http://kamernet.nl/, http://www.kamertje.nl/kamers_in_leiden, dan http://www.studentenkamers.nl/.  Untuk bisa mengakses informasi di website seperti ini, anda harus registrasi dan membayar (misalnya untuk akses 1 bulan atau beberapa hari).

Alternatif lain yang gratis adalah Facebook Page/Group. Anda bisa mendapat/mencari informasi tentang tempat tinggal di Leiden dengan cara bergabung di Facebook group seperti: Housing in Leiden, Leiden Housing, dan Rooms/Housing/Kamers Leiden University.

Satu hal penting yang perlu saya ingatkan adalah hati-hati dengan informasi scam (penipuan) yang biasanya banyak terdapat dalam website/page/group seperti ini. Informasi tentang scam dapat dibaca bagian kedua di bawah.

  1. 4.     Individu

Berdasarkan pengalaman banyak teman, informasi mengenai tempat tinggal di Leiden mereka dapatkan justru dari relasi pribadi/pertemanan/kenalan, jadi jangan pernah sungkan untuk bertanya kepada teman/kolega/dosen/kenalan/saudara anda yang sedang atau pernah tinggal di Leiden karena mereka juga bisa memberi informasi mengenai tempat tinggal yang disewakan. Terdapat pula beberapa orang Indonesia yang tinggal cukup lama di Leiden yang  pada kurun waktu tertentu menyewakan kamar di rumah mereka. Biasanya informasi mengenai persewaan kamar di rumah seperti ini tidak dipublikasikan secara formal karena informasi ini telah diketahui secara ‘turun-temurun’ atau juga ‘getok tular’ di kalangan mahasiswa/pekerja Indonesia yang ada di Leiden.

 

Apa yang perlu diketahui dalam mencari tempat tinggal?

 

Kategori Tempat Tinggal

Jenis tempat tinggal ada bermacam-macam. Apabila anda mengakses beberapa website yang saya berikan di atas, anda akan menjumpai berbagai pilihan yang ditawarkan seperti kamar, rumah, student house atau studio apartemen. Jenis ini juga terkait dengan jumlah penghuni yang tinggal di tempat tersebut. Beberapa jenis student house yang biasanya harganya murah (sekitar 300 euro ke bawah), bisa ditinggali oleh lebih dari 8 orang dan tentunya anda akan berbagi fasilitas kamar mandi/dapur/kamar cuci dengan mereka.

Dalam iklan tempat tinggal yang ditawarkan, anda akan melihat kategori “furnished” dan “unfurnished”. Furnished, atau gemeubileerd dalam bahasa Belanda, artinya kamar yang ditawarkan memiliki fasilitas seperti tempat tidur, karpet, meja/kursi, alat dapur, dll. Kategori furnished ini berbeda-beda antara tiap rumah/kamar/apartemen, jadi anda harus benar-benar teliti melihat apa yang ditawarkan. Kebanyakan kamar yang harganya murah biasanya “unfurnished” yang artinya anda harus menyediakan sendiri perlengkapan tempat tinggal anda. Jangan khawatir, anda akan dengan mudah membeli perlengkapan karena di Leiden terdapat beberapa toko barang second dengan kualitas barang yang masih bagus dan harga terjangkau (dan dapat anda jual lagi ketika anda akan pergi). Selain itu, apabila anda tergabung di FB page/group Housing in Leiden, dsb, anda akan menjumpai banyak ‘iklan’ barang-barang perlengkapan rumah yang dijual murah oleh mahasiswa yang (biasanya) akan pulang/ meninggalkan Leiden.

Kategori lain adalah “inclusief” dan “exclusief”. Inclusief artinya biaya sewa yang anda bayar sudah termasuk biaya gas, listrik, air (dan kadangkala internet). Apabila harga yang dicantumkan diikuti keterangan ”excl.” (exclusief) itu artinya harga sewa belum termasuk biaya gas, listrik, air, internet, yang berarti pengeluaran bulanan anda akan lebih besar dari harga yang tercantum.

Lokasi

Pastikan anda memperkirakan jarak lokasi tempat tinggal anda dengan kampus/tempat aktifitas anda sehari-hari. Sangat disarankan anda langsung membuka google map  untuk melihat lokasi tempat tinggal yang anda pilih dan jaraknya dari kampus anda. Hal ini penting mengingat pada saat musim dingin khususnya, apabila anda harus bepergian dengan sepeda, anda harus menempuh jarak tertentu menembus cuaca dingin Belanda yang seringkali terasa ‘menyiksa’ tubuh tropis kita. Ada baiknya juga anda cek apakah di dekat tempat tinggal ada terdapat halte bus, sehingga pada saat anda tidak naik sepeda, anda bisa dengan mudah menggunakan bus untuk bepergian.

Terdaftar/Tidak Terdaftar?

Meski saya sendiri kurang tahu persis dampak dari terdaftar/tidak terdaftarnya tempat tinggal kita, saya tetap menyarankan bahwa anda mengetahui apakah tempat tinggal anda terdaftar (registered) atau tidak. Sepengetahuan saya, ‘terdaftar’ artinya, pemilik tempat tinggal yang anda sewa telah melaporkan (dan membayar pajak) bahwa kamar/tempat tinggal mereka disewakan. Tempat yang tidak terdaftar artinya sang pemilik rumah tidak melaporkan bahwa kamar/rumah mereka disewakan. Hal ini berkaitan dengan urusan lapor diri & surat-menyurat resmi, khususnya bagi yang pertama kali ke Leiden.

Apabila anda datang untuk jangka waktu pendek (pertukaran/penelitian), hal ini mungkin tidak menjadi masalah sama sekali. Jika anda datang untuk jangka waktu panjang (sebagai mahasiswa reguler di Leiden), anda harus mendaftarkan diri di Balai Kota (Town Hall atau Gemeente) dan memberikan alamat tempat tinggal anda sambil membawa kartu ijin tinggal dan kontrak rumah. Jika tempat tinggal anda terdaftar, anda bisa mencantumkan alamat tempat tinggal anda untuk urusan surat menyurat resmi seperti Bank, Universitas, Perpustakaan, dll.

Fasilitas

Selain lokasi, jenis tempat tinggal, dan jumlah penghuni, ada baiknya anda cek terlebih dahulu fasilitas apa yang disediakan oleh tempat yang akan anda sewa. Tentu semua ini tergantung pada biaya sewa dan kategori tempat tinggalnya (furnished/unfurnished, dan exclusief/inclusief). Yang seringkali terlewatkan untuk dicek adalah adanya Mesin Cuci dan Internet.

Terdapat rumah yang tidak menyediakan mesin cuci, yang artinya anda harus pergi ke tempat laundry umum untuk mencuci pakaian anda. Ada juga rumah yang menyediakan mesin cuci, namun anda harus membayar sebelum menggunakan mesinnya.

Hampir semua rumah di Belanda memiliki jaringan internet, tapi tidak ada salahnya cek terlebih dahulu apakah tempat yang akan anda sewa memiliki jaringan internet dan apakah anda harus membayar untuk penggunaannya.

Biaya

Jika anda mendapatkan tempat tinggal melalui link universitas atau agen, yang perlu anda ketahui selain membayar biaya sewa per bulan, pada bulan pertama anda biasanya akan diwajibkan membayar deposit (kira-kira seharga biaya sewa 1 bulan). Uang deposit ini akan dikembalikan ketika kontrak anda berakhir dan anda akan meninggalkan tempat tersebut, namun apabila pemilik menemui kerusakan di tempat yang anda tinggali, uang deposit inilah yang dipakai untuk biaya ganti rugi.

Apabila anda menggunakan jasa agen, anda harus siap untuk membayar: biaya sewa, fee agen, dan deposit. Artinya, pada bulan pertama, pengeluaran anda untuk tempat tinggal akan sangat besar.

Jika anda beruntung, ada juga tempat tinggal yang pemiliknya tidak mensyaratkan deposit.

Waspada Penipuan (!)

Karena kita menggunakan internet untuk mencari informasi, kita harus sangat berhati-hati pada berita scam, atau penipuan yang dilakukan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab.

Kasus scam yang saya temui terdapat di website kamernet.nl, kamertje.nl dan FB group Housing in Leiden & Leiden Housing.

Para penipu ini berkedok tuan rumah yang menawarkan tempat tinggalnya dengan disertai foto-foto tempat tinggalnya. Ketika kita mengontak dia untuk meminta informasi lebih lanjut dan ingin membuat janji untuk melihat tempatnya, dia akan bilang bahwa dia tidak tinggal di Belanda dan kita tidak bisa melihat tempatnya langsung. Dia juga akan mengirimi kita semacam formulir data diri yang harus kita isi, yang kadang kala disertai persyaratan fotokopi paspor. Sesudah itu dia akan meminta kita mengirim uang deposit terlebih dahulu, sebagai bukti untuk dia bahwa kita akan menyewa tempatnya & dia akan mengirimi kita kunci rumahnya. Berhati-hatilah dalam memberikan informasi pribadi anda dan jangan gegabah menandatangani atau mengirimkan uang sebelum anda memastikan kontrak sewa dan melihat langsung tempat yang akan anda sewa.

Yang perlu anda ketahui  dan pastikan sebelum melakukan transaksi pembayaran untuk sewa rumah :

  1. Pastikan anda melihat sendiri tempat tinggal yang akan anda sewa dan bertemu langsung dengan pemilik rumah untuk membicarakan kontrak sewa tempat tinggal.
  2. Pembayaran biaya sewa rumah/deposit dilakukan sesudah anda menandatangani kontrak/membuat perjanjian dengan pemilik rumah yang biasanya langsung diikuti dengan penyerahan kunci.
  3. Sebelum menandatangani kontrak, pastikan anda membaca peraturan dan ketentuannya secara detail. Apabila kontraknya dalam bahasa Belanda, pastikan anda mendapat terjemahannya dan memahami isinya dengan baik.
  4. Jangan memberikan fotokopi/scan paspor anda secara sembarangan. Hampir semua website resmi agen rumah yang saya tahu, tidak pernah meminta scan paspor dalam formulir pendaftaran mereka.

1 Komentar

Historun: Menjelajahi Kepingan-kepingan Sejarah Indonesia di Leiden

“Those who don’t know history are doomed to repeat it.”
(Edmund Burke)
Mendung masih menggelayuti Leiden pagi itu. Gerimis mengiringi kedatangan para peserta ke Volkenkunde Museum. Namun hal tersebut tidak menjadi halangan bagi berkumpulnya 80 peserta untuk acara “Historun.”

Diinisiasi oleh PPI Leiden dan PPI Belanda, acara ini menawarkan konsep “penjelajahan” lokasi-lokasi bersejarah di kota Leiden yang memiliki kedekatan historis dengan Indonesia. Sekitar sepuluh spot dipilih sebagai lokasi tersebut, beberapa di antaranya adalah: rumah Snouck Hurgronje, kediaman Achmad Soebardjo (menteri luar negeri pertama Indonesia), Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde (KITLV), rumah dimana Indische Vereeniging pertama kali dicetuskan dan nukilan puisi Ranggawarsita di salah satu dinding di sudut jalan Leiden.

Beberapa nama seperti Parlindoengan Loebis, R.M. Sosrokartono, R. Soemitro dan Soetan Casejangan Soripada mungkin cukup asing karena tidak terlalu mendapat banyak porsi di dalam historiografi Indonesia. Namun siapa sangka ternyata mereka pernah berjuang demi terbentuknya konsep “Indonesia” ketika mereka berstatus sebagai mahasiswa Leiden. Siapa yang menyangka juga bahwa ada puisi Chairil Anwar dan Ranggawarsita yang terpampang gagah menghiasi sudut kota Leiden?
Setelah penyambutan oleh Jajang Nurjaman selaku perwakilan dari PPI Leiden dan Pak Bambang Hari selaku atase pendidikan baru, acara resmi dimulai. Penyisiran awal dilakukan dengan kunjungan ke section Indonesia yang ada di museum Volkenkunde. Dalam ruangan kecil museum yang telah berusia 176 tahun tersebut tersimpan koleksi arca-arca asli peninggalan Kerajaan Singasari, puluhan keris dengan ornamen yang sangat indah (salah satunya merupakan keris yang digunakan oleh Cut Nyak Dien), boneka-boneka yang merepresentasikan keragaman suku di Indonesia yang merupakan hadiah untuk Ratu Wilhelmina, serta beragam koleksi menarik lainnya. Terima kasih untuk Bu Silvy Puntowati yang telah meluangkan waktunya untuk memandu kami selama hampir dua jam.
Kami juga beruntung karena pada saat yang sama, kami juga berkesempatan melihat eksebisi “Een Huis vol Indonesie” yang baru saja dibuka di museum etnologi tertua di dunia tersebut. Pameran ini berisi ribuan koleksi dari Frits Liefkes seperti perhiasan, senjata, dan kerajinan tenun ketika ia mengunjungi pulau-pulau yang ada di Indonesia.

Selanjutnya, peserta dibagi ke dalam lima grup, perjalanan menyusuri kota Leiden pun dimulai! Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda Ibu Retno L.P. Marsudi dan Pak Bambang Hari pun turut berpartisipasi dalam grup ini hingga akhir acara. Perjalanan pun kami selingi dengan beragam situs bersejarah lainnya seperti rumah dan bengkel dimana Rembrandt pernah bekerja atau rumah dimana Rene Descartes, seorang filsuf kenamaan Perancis, pernah tinggal. Keindahan yang ditawarkan oleh kota Leiden seolah menjadi penghibur segala keletihan peserta.

Acara diakhiri di De Burch, titik tertinggi kota Leiden yang merupakan salah satu bangunan tertua yang ada di Leiden. Dalam acara penutup, Matheos dari Leiden berperan sebagai pemantik. Beberapa peserta dan panitia diminta untuk memberikan refleksi dan kesannya terhadap acara ini. Diharapkan acara yang dirintis di Leiden ini dapat menjadi stimulus bagi rekan-rekan kota guna mencari jejak dan kepingan puzzle Indonesia yang masih tercecer di seantero Belanda. (Ravando)

1 Komentar

Open Recruitment: PRESIDIUM PPI – LEIDEN

Kepada seluruh mahasiswi/a Indonesia di Leiden,
PPI Leiden membuka pendaftaran untuk mereka yang ingin merasakan berorganisasi dalam lingkup Internasional bersama Persatuan Pelajar Indonesia khususnya di Belanda dan Eropa.
Open-Recruitment ini dilakukan untuk posisi Presidium PPI Leiden yang juga adalah bagian dari struktur dasar PPI Belanda, yang memiliki kewenangan:
  • mengadakan Sidang Umum, Sidang Istimewa, dan Sidang Presidium.
  • memilih dan mengangkat Sekretaris Jenderal
  • mengajukan, menerima ataupun menolak proposal kegiatan PPI Kota dari/kepada PPI Belanda
  • mengkoordinasikan kegiatan PPI Leiden dan PPI Belanda.
  • dll.
Bagi mereka yang berminat untuk menjadi Presidium PPI Leiden silahkan balas email ini dengan surat pengajuan diri beserta biodata anda.
Calon yang diterima akan segera kami hubungi untuk kemudian mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai hak dan kewajibannya selaku Presidium PPI Leiden.
Untuk informasi kedudukan Presidium beserta AD/ART PPI dapat dilihat disini: http://ppibelanda.org/tentang/landasan
Salam hangat,
PPI Leiden.
Bila ada pertanyaan lebih lanjut bisa langsung menghubungi saya.
Benny – 06-333-788-65

Tinggalkan komentar

PEMUTARAN FILM DAN DISKUSI “ALKINEMOKIYE”

Dear All,
PPI Leiden akan mengadakan pemutaran film yang disertai dengan diskusi dengan judul “Alkinemokiye”. Menghadirkan Dandhy Laksono dan Aboepriadji Santoso sebagai keynote speaker. Acara ini akan diadakan pada:

Hari : Senin, 25 Februari 2013
Tempat : Lipsius Gebouw, Faculty of Humanities, Zaal 002

Bersama dengan pesan ini kami sertakan juga sinopsis singkat tentang film tersebut:

Dandhy Laksono’s ‘Alkinemokiye’ is a sample of how new media has been used to criticize a big corporation while the Indonesian mainstream media neglected this story. ‘Alkinemokiye’ is the story about the struggle of 8000 workers in the world’s largest gold and copper mine controlled by the US-based mining giant Freeport McMoRan in West Papua. Through this documentary we hear the voices of Freeport workers, as well as their fights for increased wages in what is believed to be the longest and most widely joined strike since Freeport began operations in Indonesia in 1967.

Most of the footage in the documentary came from the Freeport workers themselves, using simple gadgets to record everything inside Freeport site that could not be accessed by mainstream media journalists, because of its remote location as well as the tight security inside the site. Thus, this documentary was basically put together by the awareness of the workers to advocate their own cause as citizen journalists.

The documentary includes comprehensive history and background of Freeport operations in Indonesia, as well as insider footage. Not only the striking pictures and supporting data which successfully gathered by the director, the strength of this documentary is also relied on some in-depth interviews. We shall know not only from the workers, but also retirees who claimed to have been cheated by Freeport.

Summing up the story, from Alkinemokiye one can learn more than the striking event of Freeport workers only, but far beyond that. It is about appreciating human being, about hope but also justice. It is surviving after all.

Cheers,
PPI Leiden

Image

Tinggalkan komentar

Dear All.

Teman-teman Leideners yang baik, meneruskan perbincangan pengurus PPI Leiden kepada teman-teman semua.

Pertama:

Terkait dengan berita bahwa KITLV akan dipindah kota (rencananya ke Amsterdam): http://www.mareonline.nl/archive/2012/11/28/decanen-vertrek-kitlv-dramatisch-voor-leiden

Kami dari Pengurus PPI bermaksud membuat semacam petisi online yang meminta ke universitas Leiden untuk ikut bekerjasama mempertahankan KITLV supaya tetap di Leiden mengingat pentingnya KITLV untuk mendukung studi khususnya mahasiswa yang berasal Indonesia, ditambah lagi dengan meningkatnya jumlah Phd students dari Indonesia (program Leiden-Dikti) dan mahasiswa Sandwich program.

Petisi online akan segera kami buat dan kami kirimkan baik di milis maupun di fb group ppi Leiden juga akan dipublikasikan di website PPI Leiden.
Untuk itu, kami memohon persetujuan dan dukungan teman-teman Leideners dimanapun berada.

Kedua:

terkait dengan situasi PPI Jerman yang baru saja mengeluarkan pernyataan penegasan sikap terhadap kunjungan anggota DPR RI dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengawasi kunjungan anggota DPR ke luar negeri, bagaimana tanggapan rekan-rekan anggota PPI Leiden? Apakah dirasa perlu kita (PPI Leiden) mengeluarkan pernyataan dukungan atas sikap PPI Jerman?

Mohon saran dan tanggapan teman-teman semuanya.

Salam dan terima kasih,

PPI Leiden

Tinggalkan komentar

Diskusi Sastra: Politik Kanon Sastra Indonesia

Dear All,
Akan diselenggarakan diskusi menarik dengan mengambil tema Sastra:
“Politik Kanon Sastra Indonesia”
Menghadirkan narasumber utama SAUT SITUMORANG dan HERI LATIEF sebagai moderator acara.
Adapun acara ini akan dihelat pada hari Jumat, 16 November 2012 bertempat di Gedung Wijkplaats 4, nomor 005 (depan perpustakaan Universitas Leiden). Terima kasih dan sampai bertemu hari Jumat!

Salam,
PPI Leiden

Tinggalkan komentar

Diskusi Hari Pahlawan, Kerjasama PPI Belanda dengan PPI Leiden

Pada hari Sabtu tanggal 10 November 2012, berlangsung diskusi menarik di gedung Lipsius ruangan 028, Universitas Leiden. Diskusi yang dihadiri lebih dari 30 peserta ini, mengambil tema, “Memperjuangkan Hak “Pahlawan Devisa””. Acara ini dihelat dalam rangka memperingati hari pahlawan yang jatuh tepat pada tanggal 10 november ini.

Dalam diskusi yang berlangsung, hadir sebagai pembicara Ibu Prof. Sulistyowati Irianto (Guru Besar Universitas Indonesia/Peneliti di Leiden University) dan bapak Ahmad Supriadi  (Ketua Indonesian Migrant Worker Union/IMWU – Netherlands). Prof. Sulis antara lain memaparkan hsil temuan beliau selama meneliti tentang tenaga kerja Indonesia di negeri-negeri timur tengah. Beliau menambahkan bahwa hanya ada kurang lebih 400 lembaga penyalur tenaga kerja legal di Indonesia, sedangkan yang lainnya ilegal.

Bapak Ahmad, selaku ketua IMWU Belanda, meberikan apresiasi kepada PPI untuk saling bekerjasama mengatasi masalah-masalah yang muncul ke depannya. Sekjen PPI Belanda pada akhir acara juga memberikan pernyataan terkait permasalah “pahlawan keluarga” ini. Selama diskusi berlangsung, peserta terlihat aktif dan sangat peduli terhadap masalah-masalah yang muncul.

Berita selengkapnya bisa diakses di website PPI Belanda di http://ppibelanda.org/berita/ppi-belanda-siap-memperjuangkan-hak-tenaga-kerja-migran

Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.