FAQ PPI Leiden

Berikut adalah FAQ dari teman-teman di Indonesia yang akan bergabung bersama kami di PPI Leiden.

1.SEBELUM BERANGKAT

Pastikan semua dokumen yang diperlukan untuk studi ke Belanda telah siap semua. Dokumen tersebut diantaranya; Passport, Visa Studi Belanda, Letter of Acceptance, Letter of Sponsorship (jika didukung beasiswa), dan kontrak/alamat tempat tinggal di Belanda. Jangan lupa juga untuk senantiasa membaca email dari International student Officers untuk mengikuti perkembangan terkait perkuliahan di Leiden.

Bagaimana cara masuk ke Facebook group PPI Leiden?

Agar bisa masuk ke Facebook group PPI Leiden, mahasiswa baru akan diundang oleh admin setelah mengisi form berikut ini http://goo.gl/forms/SrL1Kynzps

Bagaimana cara untuk mencari kamar tinggal / rumah di Leiden?

Harga sebuah tempat tinggal di Leiden bervariasi dari 350-500 Euro untuk sebuah kamar dengan sharing kamar mandi dan dapur. Hingga 500-1000 Euro untuk sebuah studio dengan kamar mandi dan dapur sendiri.

Ada tiga cara yang bisa dilakukan untuk mencari kamar tinggal / rumah di Leiden.

Yang pertama melalui perantara Universitas Leiden:

http://www.studenthousing.leiden.edu/student-housing/contact-ics-housing-office.html

Kemudian yang kedua melalui jasa pencarian rumah online: https://www.duwo.nl/over-duwo/onze-gebouwen/leiden/?no_cache=1

Dan yang ketiga melalui Facebook group:

https://www.facebook.com/groups/leiden.housing/

2. KETIBAAN

Bagaimana mencapai kota Leiden dari Bandara Schiphol ?

Cara paling mudah untuk berangkat dari Bandara Schiphol menuju kota Leiden adalah dengan menggunakan kereta. Stasiun kereta Schiphol terletak di lantai bawah Central hall Bandara Schiphol, di sana anda dapat menemukan loket yang menjual tiket kereta. Untuk one-way ticket harganya € 5,40 dan return ticket seharga € 10,80. Kereta yang langsung menuju Stasiun Leiden Centraal berangkat setiap 15 menit sekali, dengan estimasi waktu 20 menit. Jangan lupa untuk mengecek jadwal keberangkatan kereta yang tertera di stasiun dan jangan sampai salah naik kereta. Jadwal keberangkatan kereta juga dapat di akses di :

http://9292.nl/en/.

Adakah koneksi internet yang bisa digunakan sesampainya di Belanda?

Ya, jika anda menggunakan smart-phone maka wifi gratis akan anda dapatkan sesampainya di Bandara Schiphol maupun di dalam kereta.

Dimana tempat untuk membeli kartu SIM untuk handphone?

Setibanya di Bandara Schiphol anda bisa membeli kartu SIM di toko-toko handphone atau mini-market yang ada di dalam bandara. Biasanya, kartu SIM belum termasuk pulsa telepon maupun internet, maka jika anda ingin menggunakan fasilitas tersebut jangan lupa untuk mengisi pulsa sesudahnya. Kartu SIM juga bisa di beli di banyak tempat di Leiden.

Adakah Contact Person dari PPI Leiden yang dapat dihubungi?

Untuk informasi mengenai ketibaan di Leiden bisa kirim email melalui info@ppileiden.org (24 Jam) atau SMS ke nomor : +31651009784 (Dimba) +31683299631 (Patra)

Apakah PPI Leiden mengadakan penjemputan bagi mahasiswa baru?

PPI Leiden tidak mengadakan penjemputan setiap saat kepada mahasiswa baru. Penjemputan mungkin dilakukan jika 2 minggu sebelum keberangkatan, mahasiswa baru memberi kabar kepada PPI Leiden melalui contact person. Penjemputan juga hanya dilakukan di Stasiun Leiden

Dimana tempat untuk menukar Rupiah menjadi Euro?

Banyak moneychanger yang bisa ditemukan di Bandara Schipol. Namun, PPI Leiden menyarankan agar uang Euro sudah ditukar semenjak dari Indonesia sebab tidak semua moneychanger dapat menukar uang rupiah

3.HIDUP DI LEIDEN

Dimanakah letak gedung Universiteit Leiden?

Gedung Universiteit Leiden tersebar dipenjuru kota Leiden. Masing-masing fakultas memiliki gedungnya sendiri. Di pusat kota terdapat gedung fakultas Humanities, Law, dan Archeology. Di dekat stasiun terdapat gedung fakultas Medicine dan Social and Behavioral Science. Di pinggir kota Leiden terdapat gedung Faculty of Science. Untuk lebih lengkapnya bisa klik tautan berikut:

http://visitors.leiden.edu/info/nocampus.html#location-of-the-faculties-in-leiden

Dimanakah letak gedung Webster University?

Gedung Webster University terletak di dekat pusat kota Leiden. Untuk lebih lengkapnya bisa klik tautan berikut:

http://www.webster.nl/about-webster/leiden-campus

Bagaimana sistem pembayaran yang umum di Belanda?

Sistem pembayaran yang paling umum di Belanda adalah dengan menggunakan PIN (Semacam kartu debit di Indonesia). Hampir semua restoran, toko, atau tempat perbelanjaan lainnya menggunakan fasilitas ini. Untuk bisa menggunakan PIN, anda harus membuat rekening bank yang ada di Belanda seperti ABN-AMRO, ING, dan RABO Bank.

Bagaimana cara membuat rekening bank di Leiden?

Untuk membuat rekening bank di Belanda umumnya tidak begitu banyak persyaratan yang diperlukan. Tinggal datang ke bank yang bersangkutan dengan membawa Passport dan alamat tempat anda tinggal. (Untuk lebih pasti, bisa langsung ditanyakan kepada Bank teller yang bersangkutan ketika sudah sampai di Leiden). Beberapa kantor bank terdapat di Leiden seperti ABN-AMRO, ING, dan RABO Bank

Bagaimana cara untuk mendaftarkan diri di Townhall Leiden?

Pendaftaran diri di Townhall sangat diperlukan untuk bisa mendapatkan verblijfstitel (semacam kartu KTP). Biasanya Leiden International Student Officers akan memberikan pengumuman langsung kepada email anda mengenai apa-apa saja yang harus dibawa dan kapan bisa mendaftarkan diri ke Townhall.

Bagaimana untuk bisa mendapatkan asuransi di Leiden?

Tidak semua asuransi di Indonesia dapat menjamin anda selama di Belanda. Oleh karena itu, pendaftaran asuransi di Leiden disarankan. Untuk informasi lebih lanjut klik tautan ini: www.students-insurance.eu  

Bagaimana cara menggunakan akses transportasi di Leiden dan seluruh Belanda?

Untuk bisa menggunakan akses transportasi (bus / trem / kereta) di Belanda, anda dapat membeli kartu OV-Chipkaart yang tersedia di loket kereta api. Untuk informasi lebih jelasnya dapat dibuka link berikut ini http://www.ns.nl

Selamat kepada rekan kami yang kami banggakan, Mutiara Indriani, yang menjadi presenter dalam 70th Anniversary of the UN! Berikut artikel mengenai Mutiara yang dimuat di dalam Hague Project Peace and Justice, seperti yang dibagikan oleh  Mochammad Fadjar Wibowo.

Indonesian StuNed Scholar to Present Ideas at UN 70th Conference

IMG_20151023_113852 (1)

 DSC_0040 (1)

70th Anniversary of the UN in The Hague: Leiden University Student from Indonesia to Present Ideas Supporting Sustainable Development

“Development Aid, Partnership and Cultural Adaptation: Is the combination a way forward?” is the title of set of ideas presented by Mutiara Indriani, a Leiden University student and a recipient of StuNed scholarship from Indonesia, at a Workshop on Global Governance: Climate Change and other Inconvenient Truths on Friday October 23rd, 2015. The workshop would be taken place in Humanity House as a part of the United Nations’ 70th Anniversary Conference held at the Peace Palace, The Hague and organized by The Hague Peace and Justice Project in collaboration with the Leiden University.
Conveying ideas through an essay competition
In her presentation, Mutiara stressed that considering the potential, knowledge and culture of the locals to be the foundation for the implementation of a partnership or cooperation project is essential for the realization of sustainable development. Furthermore, Mutiara who is a student of Master of International Relations confirmed that this approach can support the continuity of cooperation between the state and other stakeholders to enable appropriate allocation of resources, prevent inefficiencies and improve the effectiveness of development projects.

Mutiara was selected to present her work after she included her research paper on a writing competition organized by Leiden University. She conducted the research during her internship at the Global Action Plan Headquarter in Stockholm, Sweden. Her essay has impressed the judges thanks to an innovative approach and supported by well researched materials. Prior to study in Leiden, Mutiara (26 years) completed her studies at Ritsumeikan Asia Pacific University in Japan (2010) and worked for a year at the ASEAN Secretariat in Jakarta accordingly.

UN 70th Anniversary and Sustainable Development 2030

Coinciding with its 70th anniversary in August, the United Nations General Assembly adopts the 2030. Sustainable Development Goals. These 17 Goals and 159 Actions that are the result of diligent negotiation process among the UN Member States. For the successful realization of these goals, the Member States recognizes to engage non-state sectors such as NGOs, academics, businessmen, students, citizens and other organizations.

The Hague Municipality, The Hague Project Peace and Justice and the Leiden University
The Hague a home for the Peace Palace and the ICJ (International Court Justice) has a long reputation as the home for international peace and justice. On the UN’s 70th anniversary of The Municipality of The Hague with The Hague Project Peace and Justice and Leiden University organizes the UN @ 70 conference. The conference is expected to be start of an innovative pathways to produce contributions to Sustainable Development called “Hague Manifesto”. Through profitable workshops in which students, young professional and other experts from various walks of life enter into a dialogue, the ‘Hague Manifesto’ will contain concrete points of action to pursue on individual and institutional level.

The Hague Project Peace and Justice is an initiative of the Ministry of Foreign Affairs of the Netherlands with the Municipality of The Hague and over 160 organizations, including The Hague Academic Coalition and The Hague Institute for Global Justice. The project is an experienced multi-stakeholders platform and wishes to the successful execution of the Sustainable Development Goals. Peace, justice and law enforcement is 16th goal in Sustainable Development Goals. From a broader perspective peace and justice are crucial enablers for any form of development to be sustainable.

UN 70th Anniversary High Level Panel Debate at the Peace Palace
In addition to delivering presentation, Mutiara was also invited as participants at the UN 70th Anniversary High Level Panel Debate taken place at The Peace Palace presenting leading panellists who are also influential figures such as Ranomi Kromowidjojo (Female Javanese Surinamese descent), Dutch Swimmer, Winner of Olympic Gold), Ronny Abraham (President of International Court Justice), Miguel de Serpa Soares (Under Secretary General for Legal Affairs and UN Legal Counsel), Michel Solomon (UNHCR), Emmanuel Jal (musician from South Sudan). The event which was held at the Peace Palace was closed by a speech from the Mayor of The Hague, Jozias van Aartsen.
Role of Indonesian Youths and Scholars in Sustainable Development
When she was asked about the potential role of Indonesian youths and scholars in optimizing Sustainable Development in 2030, Mutiara who is a mother of a son conveyed, “Behaviour changes towards improvements in community level are very likely to be achieved when every member of the community felt involved and empowered”. This can be done by inviting the public to explore the potential that they have to face various challenges that exist in the vicinity. When mentioned about her motivation in taking her current field of study Mutiara who just turns from her three year of maternal leave replied, “I just want to be a window with a broad perspective for my children and their generation, helping them in recognizing the potential of themselves and their nation..”

Selamat Mutiara untuk prestasinya yang membanggakan!

PPI Leiden

Meneruskan Tradisi

Antara PPI Leiden dan Ambassador Cup 2015

Pada hari Sabtu, 10 Oktober 2015 berlangsunglah acara Ambassador Cup di Sport Centre de Bongerd –Wageningen University. Acara Ambassador Cup  2015 yang diselenggarakan oleh PPI Wageningen dan didukung penuh oleh KBRI, merupakan kompetisi olahraga tahunan yang diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah Belanda. Untuk ikut memeriahkan acara tersebut, PPI Leiden pun mengirimkan atlet-atlet terbaiknya ke Wageningen. Sebanyak 20 orang atlet yang terbagi ke dalam empat cabang olahraga, yaitu  tenis, voli, bulu tangkis, dan tenis meja pun turut ambil bagian dalam kompetisi olahraga tersebut.

Sebelum keberangkatan ke Wageningen, selama kurang lebih dua minggu, para atlet telah berlatih guna mempersiapkan diri mereka. Antusiasme dan semangat para atlet sudah terlihat sejak mereka melakukan latihan dan tetap terjaga sampai dengan hari pertandingan. Tidak hanya para atlet yang terlihat antusias dan bersemangat, teman-teman PPI Leiden yang tidak ikut berkompetisi pun tak henti-hentinya memberikan dukungan kepada para atlet. Dukungan yang diberikan sangat bervariasi, mulai dari memberikan semangat lewat media sosial, memberikan makanan ringan untuk bekal diperjalanan, membuat poster, ataupun datang dan mendukung para atlet secara langsung pada hari pertandingan.

Walaupun belum dapat membawa piala juara umum dalam Ambassador Cup 2015, tetapi kontingen PPI Leiden telah memberikan performa terbaik mereka dan berhasil menorehkan beberapa prestasi, yaitu masuk dalam perempat final ganda tenis lapangan dan tunggal putri bulu tangkis. Selain itu, tim ganda bulu tangkis PPI Leiden dan tunggal putra tenis lapangan PPI Leiden juga berhasil masuk ke babak semi final. Untuk kerja keras, semangat, dan antusiasme para atlet dan juga para pendukung, PPI Leiden mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Tahun depan mari kita coba lagi dan mudah-mudahan kita bisa membawa pulang piala juara umum Ambassador Cup 2016!

Catatan kecil : Ada banyak kisah yang terukir indah selama Ambassador Cup 2015 kemarin. Semoga kisah-kisah itu berkesan bagi teman-teman sekalian dan kita masih bisa terus berbagi kisah dalam acara-acara lainnya :)

Sepenggal kisah yang berhasil tertangkap kamera :

3

Kontingen PPI Leiden dan para pendukung sebelum berangkat ke Wageningen

 2

Kontingen PPI Leiden dalam pembukaan Ambassador Cup 2015

 

1

Kontingen PPI Leiden dan para pendukung sebelum pulang ke Leiden :

“Tetap bahagia walaupun tak jadi juara, sebab telah banyak kisah indah yang berhasil diukir!”

 

Oleh:
Maria Tarisa
Ketua Kontingen PPI Leiden

Meneruskan Tradisi

Teks disampaikan oleh Ghamal Satya Mohammad pada pembukaan acara Lapor Diri Mahasiswa Baru di Leiden

Gedung Lipsius, Universitas Leiden
7 Oktober 2015

Avs6cdxE3vKq0_ZQK0VmhCulW-Qieb0R_Fi9qZig_57L

Ada yang berbeda dengan Leiden. Kota ini dan penduduknya memiliki keterikatan batin dengan bangsa Indonesia. Dari kota ini misalnya, para pelajar Indonesia dahulu merajut paham kebangsaan Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Kemudian, para pelajar Indonesia di Leiden ikut serta melawan tentara Nazi Jerman yang menguasai Belanda di masa Perang Dunia ke II. Mereka memiliki pandangan, bahwa penjajahan mesti dilawan, walaupun itu terjadi di negeri penjajah itu sendiri. Perjuangan mereka akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 1945 Belanda terbebaskan dari kekuasaan Fasis Jerman. Barisan Irawan, kelompok perlawanan dari pelajar Indonesia, berjalan dengan gagahnya diantara ribuan tentara sekutu dalam parade pembebasan Belanda. Melewati sisi sungai Oude Rijn, kemudian dilanjutkan melewati Breestraat, dan seterusnya, diiringi oleh gegap gempita rakyat Belanda di Leiden. Pada kesempatan lain setelah perang, seorang pelajar perempuan Indonesia dari Leiden, Evy Poetiray, mendapat kesempatan berbicara di depan ribuan orang Belanda. Dia bertanya, “saudara-saudara, apakah bersedia menerima kemerdekaan bangsa Indonesia?” Kemudian dijawab dengan riuh, “bersedia!” Itulah. Pengalaman batin yang dibentuk dengan ketulusan dan kesadaran akan nilai humanisme, mampu mengalahkan ego manusia. Menggugah hati nurani siapapun, walaupun tembok tirani kadang kala menutupi celah-celah kebenaran. Pengalaman para pendahulu kita, para pelajar Indonesia di Leiden, membuktikan hal tersebut.

Lewat Rentang waktu yang cukup panjang dari masa itu, tibalah kita semua di Leiden. Kota yang pernah menjadi saksi akan ketulusan dan perjuangan orang Indonesia. Pada masa ini berbagai tantangan baru menghadang dari segala penjuru. Demikian juga dengan harapan baru. Para pelajar Indonesia di Leiden memiliki tradisi luhur untuk belajar tanpa menanggalkan kepekaan akan keadaan sekitar. Disini, kita tidak hanya belajar sejarah, tetapi juga belajar dari sejarah. Kita jadikan tradisi sebagai pedoman untuk melihat permasalahan kekinian. Menanggapi isu anti Islam yang muncul lagi di Eropa pasca insiden Charlie Hebdo di Perancis, misalnya, kita perlu bersikap proaktif dengan menanyakan kepada diri sendiri terlebih dahulu, sudahkan kita mencerminkan diri sebagai insan cendekia, yang mampu memberikan pemahaman bahwa keyakinan agama bukanlah musuh. Pikiran jahat yang bisa muncul dari manusia lah yang perlu diwaspadai, dari manapun si manusia berasal. Menanggapi kasus ancaman penembakan yang sedang hangat di Universitas Leiden sejak kemarin, kita perlu meyakinkan diri bahwa pelajar Indonesia tidak gentar menghadapi ancaman yang mengganggu proses belajar, dan juga terus meningkatkan kewaspadaan dimanapun kita berada. Selanjutnya, kita katakan “tidak!” pada berbagai bentuk kejahatan dan kepalsuan.

Kepada para pelajar yang baru tiba di Leiden, saya ucapkan selamat karena sudah menjadi bagian dari sejarah pelajar Indonesia di kota ini. Mudah-mudahan kita semua mampu untuk meneruskan tradisi baik dari para pendahulu kita. Semoga usaha kita untuk tulus belajar dan belajar ini senantiasa mendapat rahmat dari Tuhan yang Maha Kuasa. Sekian.

Wassalammualaikum wr. Wb.
Selamat malam

-PPI Leiden
Meneruskan Tradisi-

Kontingen PPI Leiden untuk Ambassador Cup 2015

Hari Sabtu besok PPI Leiden akan ikut meramaikan pagelaran Ambassador Cup 2015 di Wageningen. Horeeee!

Tahun ini, kita akan mengirimkan kontigen untuk setiap cabang olahraga yang dilombakan.
Di video berikut,
teman-teman bisa intip barisan kontingen kita,
yang telah terseleksi menimbang prestasinya di RT/RW asal masing-masing.

Ada Asep Maulana, Syahril Siddik, Meily Cahya Setyawati,Sinan, Anya Yohana Aritonang, Gloryka Ednadita, Dewa Ayu Puteri Handayani, dan Albert di cabang bulu tangkis;

Ada Rizqya Juwita, Harzy Randhani Irdham, Don Fernando, Kurniawan Saefullah di cabang tenis;

Ada Nazar Udin, Kurniawan, dan Alita Dyah Lidina Kuntoro di cabang tenis meja;

Ada Eri Yoga Sidharta, Dimas Pradana, Syahril Siddik, Rizqya Juwita, Sinan, Harzy Randhani Irdham, Alkira Noersatryo, Arum Perwitasari, Nurenzia Yannuar Sidharta, Derry Patradewa di cabang voli.

Wiiii, seru ya barisan atlet kita!
Yuk, mari, dukung kontingen kita di Ambassador Cup 2015! *tekuk bisep*

Salam olahraga!

— Tim Ofisial Kontingen PPI Leiden 2015

Written by: Melita Tarisa

Sekertaris Jendral PPI Belanda 2015-2016

Pada hari Sabtu, 3 Oktober 2015, rekan kami Ali Abdillah, Mahasiswa Jurusan European Law Universiteit Leiden terpilih menjadi Sekertaris Jendral PPI Belanda 2015-2016.

DSC01787

Selamat untuk Ali! Selamat mengemban tugas dan semoga bisa membawa PPI Belanda menjadi PPI yang lebih baik lagi :)

Pengurus PPI Leiden 2015-2016

img_8080

Ketua
Ghamal Satya Mohammad

Studi Colonial and Global History di Universitas Leiden. Sempat juga belajar wayang kulit, dan berlatih ilmu bela diri tradisional. Sekarang ia sedang meresapi makna dedikasi terhadap hidup. Kita berdo’a semoga perenungannya membuahkan hasil maksimal!


Sekertari603026_10200556065407114_407473437_ns Organisasi
Derry Patra Dewa

Patra menempuh studi di jurusan Law and Digital Technology Fakultas Hukum Universitas Leiden. Selain bermain sepak bola, beliau menghabiskan waktunya dengan menonton setiap pertandingan Manchester United. Dengan mempertimbangkan ketrampilan administrasinya, Patra mendapat kehormatan menjadi Sekretaris Organisasi di Kepengurusan PPI Leiden 2015-2016.


11136617_10207188203849682_4107367113732654646_nBendahara Organisasi
Nurenzia Yannuar Sidharta

Selain ahli membuat cwie mie Malang, Renzi juga rutin melakukan yogalates. Di tahun keduanya di Leiden, ia jatuh cinta pada keindahan lansekap, kanal, cafe, dan orang-orang yang ia temui selama masa studinya di Leiden University Centre for Linguistics. Sekarang ini, dia tengah menulis disertasi tentang Basa Walikan Malang. Ia menempati kantor di Gedung Van Wijkplaats 4.


FB_IMG_1442867243325 (1)-cropPresidium dan Hubungan Eksternal
Louie Buana

Louie adalah seorang mahasiswa dengan dua latar belakang keilmuan, yaitu sejarah dan hukum. Pria yang hobi karaoke dan jalan-jalan ini pernah mendirikan sebuah komunitas bernama Lontara Project. Pemilik suara tenor ini berzodiak Aries dan pernah menerbitkan sebuah novel berjudul “The Extraordinary Cases of Buran”.


10405281_10203896173378581_2248570521987379964_nKoordinator Bagian Humas dan Hubungan Internal
Dirgantara Reksa

Bung yang satu ini percaya bahwa “Lebih burung karena sayap, lebih manusia karena akal”. Artinya, setiap tindakan yang ia lakukan semata-mata berdasarkan rasionalitas (meski kadang ia perasa).  Pria yang suka mengoleksi teh ini sekarang ini sedang melakukan studi program magister Politics, Society, and Economy of Asia di Fakultas Humaniora Universitas Leiden. Ia juga suka membuat puisi dan karyanya bisa dilihat di certainthoughts.wordpress.com.


12034442_10207986766731690_7222686789167231248_oAnggota Bagian Humas dan Hubungan Internal
Hadimba Sibarani

Itulah nama unik dari gadis keturunan suku Batak ini, yang kerap dipanggil Dimba oleh semua orang. Saat ini Dimba sedang menempuh studi di jurusan International Civil and Commercial Law Fakultas Hukum Universitas Leiden. Selaimn akrab dengan dunia hukum dan komersil bisnis, Dimba juga menyukai bernyanyi, fashion, dan make up. Kemampuannya untuk bersosial dari berbagai kalangan masyarakat membawanya untuk masuk menjadi bagian dari salah satu anggota Humas Kepengurusan PPI Leiden 2015-2016.


IMG_2067Anggota Bagian Humas dan Hubungan Internal
Rizqya Juwita

Teman-teman memanggilnya Qya. Gadis berkacamata ini senang bernyanyi dan menyukai anak-anak. Untuk studi masternya, ia mengambil program Child and Adolescent Psychology di Faculty of Social and Behavioral Science, Universitas Leiden. Di Kepengurusan PPI Leiden 2015-2016 ini Qya akan menjadi salah satu anggota Humas.


1263766_10200192294684691_608634892_oBagian Acara
Nazar Udin

Nazar adalah seorang mahasiswa linguistik yang gemar berwisata kuliner. Hampir semua kafe dan restoran di Leiden dan Jakarta, kota kelahirannya, telah dijelajahinya. Di sela-sela kesibukannya menulis struktur bahasa Woirata, dia kerap bermain gitar dan bernyanyi bersama teman-temannya. Instagram-puisi-pujangga instagram.


419731_10151275554590204_362522354_nBagian Acara
Tika Ramadhini

Tika adalah mahasiswa program studi Colonial and Global History akan bertugas sebagai salah satu seksi acara di Kepengurusan PPI Leiden 2015-2016. Di tahun keduanya di Leiden, Tika rutin mengikuti latihan menari Jawa dan bermain musik talempong. Tika juga senang makan. Jadi, teman-teman yang ingin menelusuri kuliner Leiden, bisa ajak Tika!


raisaBagian Acara
Raisa Kamila Humam

Lahir dan besar di Banda Aceh. Menyelesaikan pendidikan tinggi di Fakultas Filsafat UGM dengan fokus studi Filsafat Sosial Politik. Saat ini tengah mengikuti program beasiswa ENCOMPASS di University of Leiden. Di waktu senggang, Raisa senang menonton film, membaca cerita fiksi dan menggambar.


f0e6ef6d5a3247f5e422edc8be4701d1Arsiparis dan Pengembangan Organisasi
Melita Tarisa S.

Sebagai pendatang baru di Leiden, ia sangat menikmati kesederhanaan kota mahasiswa ini dan keindahan bunga-bunga yang bisa dilihat setiap saat (dan i feel free~~). Selama menjalani studi di departemen Child and Educational Studies Faculty of Social and Behavioral Science, ia bertekad untuk bersenang-senang sebanyak mungkin. Hore!


Pisah-Sambut PPI Leiden 2015

Pada hari Jumat, 4 September 2015, bertempat di Gedung Lipsius ruang 0.28, PPI Leiden menggelar acara “Pisah Sambut PPI Leiden 2015”. Acara ini bertujuan untuk 3 hal :

  1. Menyambut dan mengenal anggota baru keluarga PPI Leiden
  2. Mengenal Calon Ketua PPI Leiden 2015/16 dan mendengar ide mereka dalam memajukan PPI Leiden setahun ke depan
  3. Memberikan apresiasi pada wisudawan Leideners yang telah berhasil menyelesaikan studinya tahun ini

Walau hujan badai menerjang seantero Leiden di sore hari dimulainya acara, jam 18 waktu Leiden, tapi tak menyurutkan antusiasme anggota PPI Leiden (atau kerap menyebut diri Leideners) untuk hadir di tempat acara. Panas terik hujan badai kita lalui bersama, begitu semangat yang terpatri dalam jiwa. Tak kurang dari 60 mahasiswa Leiden menyempatkan diri datang.

Acara dimulai dengan pidato sambutan oleh ketua PPI Leiden 2014/2015, Herman Yosef Paryono. Dengan semangat ia menyampaikan hikmah yang bisa diambil dari film Mission Impossible. Betapa kreatif sang ketua menghubungkan lesson dari film tersebut dengan kondisi organisasi. Tentu dengan harapan bahwa penerusnya bisa meneruskan agenda PPI Leiden dengan lebih baik.

IMG_6219

Agenda berikutnya, makan-makan. Nasi lauk sayur terhidang untuk santap nikmat bersama (walau ternyata porsinya kurang karena yang hadir ternyata melebihi perkiraan). Tidak mengapa, makan-makan bukan prioritas satu kita dalam acara ini. Kebersamaanlah utamanya. Anggota PPI Leiden yang sudah lebih dulu datang di Leiden bisa saling berkenalan dengan anggota keluarga Leideners yang baru saja datang untuk menempuh studi.

Menginjak agenda kedua, mengenal lebih dekat Calon Ketua PPI Leiden 2015. Kandidatnya yakni:

  1. Al Hadid Endar Putra, mahasiswa master program European Law

IMG_6229

2. Ghamal Satya Mohammad, mahasiswa research master program Colonial & Global History

IMG_6250

Massa PPI Leiden cukup antusias memberikan pertanyaan untuk dijawab para calon ketua, mulai dari berapa jumlah anggota PPI Leiden, rencana program kerja, funding, pernyataan sikap, sampai di mana letak puisi Chairil Anwar. Hal ini menunjukkan bahwa para anggota peduli dan semoga itu memberi sentilan bagi calon ketua untuk punya ikhtiar lebih dalam membuat memajukan PPI Leiden (kita semua saling support tentunya).

Agenda ketiga, pemberian apresiasi bagi para wisudawan wisudawati Leideners yang telah berhasil menyelesaikan studinya tahun ini. Bunga sebagai satu tanda cinta diberikan langsung oleh Sekjen PPI Belanda yang juga Leideners, Hapsari Cinantya Putri (sebenarnya juga salah satu wisudawati lho..), serta salah satu senior PPI Leiden, Bapak Hari Nugroho. Kita doakan semoga para wisudawan wisudawati Leideners ini sukses dalam meraih cita-cita dan diberi kemudahan dalam step selanjutnya untuk memajukan Indonesia tercinta.

Terakhir, sesi foto-foto pastinya. Inilah keluarga besar PPI Leiden 2015. Cheers!

ppi leiden 2015

PANDUAN MENUJU LEIDEN DARI SCHIPHOL AIRPORT

Slide1 Slide2 Slide3

Versi PDF dapat diunduh di sini: PANDUAN MENUJU LEIDEN DARI SCHIPHOL AIRPORT

Leiden HistoRun 2015 Promo

Indonesia dan Belanda telah terikat jalinan sejarah selama ratusan tahun, meninggalkan beragam kisah mendalam yang patut dipelajari dan dimaknai secara lebih nyata terutama bagi kaum muda sebagai generasi penerus. Belanda yang telah menorehkan begitu banyak peristiwa dalam catatan sejarah perjalanan Indonesia di masa lampau, menyimpan banyak bukti historis sebagai warisan pemikiran, kebijaksanaan dan nasionalisme. Oleh karena itu, PPI Leiden berinisiatif mengadakan suatu kegiatan sederhana yang dapat menambah kebanggaan dan kecintaan kita terhadap tanah air dengan mengunjungi dan mempelajari sejarah Indonesia yang terekam di berbagai lokasi di Leiden.

Ali Sastroamidjojo dan Achmad Soebardjo pernah berjuang di kota ini dalam Indonesische Vereeniging..

RMP Sosrokartono, dari kota ini kerap mengirimkan buku dan buletin yang menjadi pencerahan adiknya, RA Kartini dalam emansipasi wanita..

Pun puisi Ranggawarsita dan Chairil Anwar yang tercetak di sudut kota kecil Negeri Oranje ini..

Karenanya, yuk kita susuri bersama kepingan sejarah Indonesia di Leiden dalam HistoRun 2015. HistoRun edisi 3 ini akan digelar pada hari Sabtu, 14 Maret 2015.

Jangan lewatkaaan yaaa…. :)

Blog di WordPress.com.
Tema Esquire.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya